Kamis, 02 September 2010

Nomina Bentuk Terikat dalam Bahasa Ibrani (BAGIAN I)

Assala:mu’alaikum…..!
Apa kalian ada yang tahu bahasa Ibrani?
Sebagian besar dari kita pasti sudah pada tau, bahkan bisa menggunakannya untuk percakapan sehari-hari. Bahasa Ibrani itu, bahasa nasionalnya orang Israel juga bahasa dalam Torah (Taurat) Yahudi atau Old Testament.
Bagi kita di Indonesia, bahasa Ibrani sebenernya gak terlalu asing karena kita biasa denger kata-kata dalam bahasa Ibrani digunakan untuk nama gereja atau nama orang, contohnye gereja Betel, Lahai Roi, Immanuel, Semuel, Rahel, Ruben, dan lain-lain.
Nah, biar bisa tau kata-kata lain dalam bahasa Ibrani sekedar untuk nambah pengetahuan, berikut ini ada uraian mengenai nomina/kata dalam bahasa Ibrani.
Kita bagi-bagi ilmu dikit, yeee….!!!  Tafadhdhalu: iqrau:


NOMINA BENTUK TERIKAT PADA FRASE NOMINAL

DALAM BEBERAPA AYAT GENESIS BERBAHASA IBRANI (Bagian I)

Latar Belakang
Salah satu satuan terbesar setelah kata adalah frase. Menurut Harimurti (2001: 59), frase adalah gabungan dua kata atau lebih yang sifatnya tidak predikatif. Gabungan dua kata tersebut dapat berupa frase nominal (FN). Secara umum, FN merupakan kelompok kata yang terdiri atas dua konstituen, yaitu konstituen induk dan konstituen modifikator (pewatas). Gabungan antara induk FN dan pewatasnya  dapat membentuk konstruksi baru yang bermakna baru pula. Misalnya pada contoh frase ‘mobil mahasiswa’ terdiri atas nomina induk (mobil) dan nomina pewatas (mahasiswa) yang masing-masing memiliki maknanya sendiri. Kemudian ketika kedua nomina tersebut bergabung menjadi sebuah frase, ia memiliki makna baru yang bias berarti mobil milik mahasiswa atau khusus untuk angkutan mahasiswa dan bukan mobil milik atau digunakan untuk dosen, guru, atau masyarakat umum lainnya.
Frase-frase itu sendiri memiliki cirri khas pada setiaap bahasa yang berbeda. Contohnya mari kita lihat pada bahasa Arab dan bahasa Ibrani yang akan dibandingkan dan dibahas pada bagian selanjutnya. Gabungan antara nomina induk dan nomina pewatas dalam bahasa Arab (bA) disebutdinamakan dengan iḍafa atau FN genitif. Iḍafa digambarkan dengan dua buah nomina yang saling terikat, yaitu nomina induk yang disebut muḍaf dan nomina pewatas yang disebut muḍaf ilaih. Iḍafa disebut juga sebagai FN genitive dikarenakan muḍaf dapat menyebabkan muḍaf ilaih berada dalam kasus genitif karena pengeruhnya sebagai nomina induk. Berikut ini merupakan contoh iḍafa.
 (1) /mu’allim al-ja:mi’a(ti)/,           ‘pengajar universitas                   معلّم الجاَمعة
Kata pertama (معلّم) /mu’allim/ pada contoh (1) adalah induk FN atau muḍaf , dan kata kedua الجاَمعة /al-ja:mi’a(ti)/ adalah pewatas atau muḍaf ilaih. Vokal muḍaf pada umumnya tidak banyak mengalami perubahan. Perubahan pada muḍaf dapat terjadi pada konstituen terakhir atau sufiks bentuk dual dan jamak sesuai  posisi konstruksi tersebut pada kasus nominatif, akusatif, dan genitif yang didahului preposisi (frase preposisional) dalam kalimat.
Sufiks-sufiks jamak dan dual adalah: ـُون /u:na/ (nom.) dan ـِين /i:na/ (aku./gen.) pada jamak maskulin; ـَان /a:ni/ (nom.) dan ـَيْن /ayni/ (aku./gen.) pada dual; serta ـَاتٌ  /a:tun/ (nom.) dan ـَاتٍ /a:tin/ (aku./gen.) yang ditambahkan pada jamak feminin setelah menghilangkan sufiks feminin ـَة /a(t)/. Berikut ini adalah contoh nomina dengan sufiks dual dan jamak.
(2) /mu’allimata:ni/                      ‘dua orang pengajar (f)’                      معلمتان
(3) /mu’allimu:na/                             ‘pengajar-pengajar’                          معلمون
Perubahan terjadi pada sufiks dual dan jamak maskulin berupa pelesapan konsonan ( ن ) /n/, dan pada jamak feminin dengan menggantikan tanwin (ـٍ / ـٌ) /in/ atau /un/ menjadi vokal biasa (ـِ / ـُ ) /i/ atau /u/.  Berikut ini adalah contoh konstruksi iḍafa.
(4) /mu’allimata: al-ja:mi’a(ti)/    ‘dua orang pengajar (f) universitas’        الجامعة  معلمتا
(5) /mu’allimu: al-ja:mi’a(ti)/             ‘para pengajar universitas’               معلمو  الجامعة  
                                                Maskulin                                                     Feminin
Dual    nom.             mu’allima:ni   →  mu’allima:                mu’allimata:ni   →  mu’allimata:
            aku./gen.      mu’allimayni  →  mu’allimay               mu’allimatayni  →  mu’allimatay
Jamak  nom.             mu’allimu:na  →  mu’allimu:               mu’allima:tun   →  mu’allima:tu
            aku./gen.       mu’allimi:na   →  mu’allimi:                mu’allima:tin    →  mu’allima:ti

Tabel 1: Infleksi Nomina dalam bA.
            Bahasa Ibrani (bIB) yang masih sekerabat dalam rumpun bahasa Semit dengan bA, mempunyai perbedaan dalam bentuk nomina induk FN-nya. Dalam bIB, perubahan pada nomina induk tidak hanya terjadi pada konstituen akhir kata saja, tetapi dapat terjadi dalam keseluruhan vokal kata tersebut.
            FN (nomina + nomina) dalam bIB disebut סְמִיכוּת /ṣemîkhûth/. Hubungan antar nomina dalam FN genitif bIB dinyatakan dengan keterikatan dan ketergantungan antara dua nomina, yaitu nomen regens / governing noun (nomina yang menguasai) dan nomen rectum / governed noun (nomina yang dikuasai) (Joüon, 2000: 276). Pada kata דָּבָר /dāvār/ ‘kata, perkataan’ serta bentuk jamaknya דְּבָרִים / devārîm/,  FN genitif dapat mengalami perubahan dalam konstruksi seperti berikut ini:
(6)  /devǎr ?εlōhîm/                              ‘firman Tuhan’                                    אֱלֹהִים דְּבַר
(7) /dĭvrê ?εlōhîm/                         ‘firman-firman Tuhan’   דִּבְרֵי   אֱלֹהִים                       
 Pada contoh (6) kata yang pertama, דְּבַר /devǎr/ ‘perkataan’ adalah induk frase yang tidak berartikel. Adapun kata אֱלֹהִים  /?εlōhîm/ ‘Tuhan’ adalah pewatas yang selalu mengikuti induk frase. Hal tersebut juga serupa pada contoh (7). Pada kedua contoh frase tersebut, kata yang pertama (induk frase) dalam keadaan terikat karena bersandar pada kata yang mengikutinya (pewatas). Oleh karena itu, dengan mengikuti dosen yang telah mengajar dan membimbing saya, maka nomina itu kami sebut sebagai nomina terikat (nt) (construct state). Kebalikan dari keadaan terikat adalah nomina bebas (nb) (absolute state). Hal tersebut dapat terlihat seperti konstruksi modifikasi, yaitu konstruksi gramatikal yang terdiri atas induk dan modifikator.
            דָּבָר /dāvār/ merupakan kata yang berbentuk nomina bebas (nb) (absolute state). Ia dapat mengalami perubahan menjadi דְּבַר /devǎr/ ketika dalam bentuk terikat(construct state). Kata tersebut juga akan mengalami perubahan pada bentuk nomina jamak bebas (absolute state) setelah diberi sufiks jamak ִים /îm/ menjadi דְּבָרִים /devārîm/. Ia pun juga akan mengalami perubahan pada bentuk jamak terikat (construct state) menjadi דִּבְרֵי /dĭvrê/. Mengapa terjadi demikian?
            Hubungan keterikatan dalam emîkhûth (FN) mengakibatkan pelemahan atau perpindahan tekanan utama (primer) dari nomina induk frase kepada nomina pewatas  di depannya. Perpindahan ini mengakibatkan kata yang kehilangan tekanan utama menjadi lebih lemah sehingga mengalami perubahan vokal.
            Dalam bIB, terdapat unsur suprasegmental berupa tekanan. Kata dalam bIB pada umumnya mempunyai tekanan utama pada silabel terakhir (ultima) yang disebut milra’ (dari bawah). Selain itu, terdapat beberapa kata yang mempunyai tekanan utama pada silabel kedua dari akhir (penultima) yang disebut mil’el (dari atas). Pergeseran atau hilangnya tekanan dapat menyebabkan perubahan vokal seperti halnya dalam hubungan keterikatan pada frase genitif, atau dengan adanya penambahan sufiks.
            Berikut ini contoh nomina bentuk terikat.
(8) דָּבָר / dāvār/ tgl.  m. nb.            →         דְּבַר /devǎr/ tgl. m. nt.
(9) דְּבָרִים / devārîm/ jmk. m.nb.      →         דִּבְרֵי /dĭvrê/ jmk. m. nt.
            Kata דָּבָר, dengan tekanan pada silabel terakhir, berasal dari nomina berbentuk dasar dengan vokal pendek pada kedua silabelnya (דַּבַר /dǎvǎr/). ketika dalam bentuk terikat, tekanan utama berpindah satu silabel ke depan atau kepada kata di depannya. Oleh karena itu, vokal panjang qāmēç (ָ) /ā/ pada silabel terakhir yang kehilangan tekanan kembali kepada bentuk dasarnya, yaitu vokal pendek páthǎx ַ /ǎ/. Adapun vokal pada silabel pertama, yang semakin jauh dari tekanan, melemah menjadi šewa ְ /e/. Dengan demikian,  keseluruhan kata berubah menjadi דְּבַר /devǎr/. Alur perubahan ini dapat kita lihat pada ilustrasi berikut ini.
                 1      0    1                                                                      2   0            2
            דָּבָר / dāvār/ (nb)    <    דַּבַר /dǎvǎr/ (nd)    →    דְּבַר    /devǎr/ (nt).
            Sementara itu, nomina jamak bentuk bebas דְּבָרִים / devārîm/ ketika dalam bentuk terikat mengalami perubahan dengan berpindahnya tekanan dua silabel ke depan atau kepada nomina pewatas di depannya. Akar kata bentuk jamak dikembalikan pada bentuk dasarnya terlebih dahulu. Setelah itu, vokal pendek páthǎx ַ  /ǎ/ dari bentuk dasar pada silabel kedua berubah menjadi šewa ְ /e/. Adapun vokal pendek  páthǎx ַ /ǎ/ dari bentuk dasar pada silabel pertama, yang semakin jauh dari tekanan utama, melemah menjadi vokal pendek xîrěq ִ /ǐ/. Dengan demikian, kita akan mendapatkan perubahan kata dasar itu menjadi דִּבְר /dĭvr/. Setelah itu, sufiks jamak bentuk bebas ִים /îm/ digantikan dengan sufiks jamak bentuk terikat ֵי /ê/ sehingga nomina itu pun berubah menjadi דִּבְרֵי /dĭvrê/. Berikut ini adalah ilustrasi dari perubahan tersebut.
                                       1                                                                                            2
      קַטַל (nd)   >   קְטָלִים (nb.jmk)   →    קַטַלִים*    →  קִטְלִים*  →      קִטְלֵי    (nt.jmk)
                                     1                                                                                      2
   qǎṭǎl (nd)  >  qeṭālîm (nb.jmk)  →  qǎṭǎlîm*  →  qǐṭlîm*  →  qǐṭlê      (nt.jmk)
            Perubahan dari sedikit gambaran pada contoh nt di atas mungkin dapat membuat kita, khususnya yang tengah mempelajari bahasa Ibrani, menjadi bingung. Padahal, contoh di atas merupakan salah satu yang mendasar dari sebuah nomina dalam bIB. Belum lagi, akan kita itemui nomina yang perubahannya tidak beraturan, pasti akan bikin kita makin pusing. Sebagian dari kita mungkin akan menganggap kalau bahasa ini gak jelas, gak konsisten, berliku-liku, dan suka berpaling, sama seperti sifat penutur aslinya (orang Israel). Ya, hal itu bisa saja benar karena bahasa mencerminkan kepribadian bangsa.
Mengenai pengantar nomina bentuk terikat ini kita sudahi sampai di sini dulu. Pembahasan seterusnya akan kita lanjutkan pada artikel bagian II berikutnya. Mudah-mudahan bermanfaat, yeee…..!!!

So….Wassalamu’alaikum…..!!!
BERSAMBUNG…….

NB: Supaya bisa baca aksara Ibrani, lihatlah transliterasi berikut ini. 

DAFTAR TRANSLITERASI KONSONAN
IBRANI – LATIN

Huruf
Nama
Transliterasi

di akhir kata
א
ב      בּ
ג       גּ
ד       דּ
ה
ו
ז
ח
ט
י
כ      כּ
ל
מ
נ
ס
ע
פ      פּ
צ
ק
ר
שׂ      שׁ
ת       תּ










ך

ם
ן


ף
ץ
‘Alef
Bêth
Gîmel
Dāleth
Wāw
Záyin
Xêth
Ṭêth
Yôdh
Kaf
Lāmedh
Mêm
Nûn
Ṣāmekh
‘Ayin
Çādhê
Qôf
Rêš
Sîn       Šîn
Tāw
?
v       b
gh      g
dh      d
h
w
z
x
y
kh      k
l
m
n
f       p
ç
q
r
s       š
th      t


DAFTAR TRANSLITERASI VOKAL
IBRANI – LATIN

                 Vokal Panjang                                                    Vokal Pendek
Tanda
Nama
Transliterasi

Tanda
Nama
Transliterasi
ָ
Qāmēç
 ā      ā
ַ
Páthǎx
ǎ      ǎ
ֵ
ֵי
Çērê
ē      ē
ê      ê
ֶ
Şeghôl
ě      ě
ִי
Xîrěq (panjang)
î       î
ִ
Xîrěq
ǐ      ǐ
וֹ
ֺ
Xōlĕm
ô      ô
ō      ō
ָ
Qāmēç-xaţûf
ǒ     ǒ
וּ
Šûrĕq
û      û
ֻ
Qĭbbûç
ǔ     ǔ


Šewa dan Šewa Majemuk (Xāţēf)
Tanda
Nama
Transliterasi
ְ
Šewa
e   
(atau tak ditransliterasikan seperti sukun dalam bA)
ֲ
Xāţēf- Páthǎx
a
ֱ
Xāţēf-Şeghôl
ε
ֳ
Xāţēf-Qāmēç-Xaţûf
o
Harrison,R.K. Biblical Hebrew. Hodder dan Stoughton. Great Britain. 1955.                     
Dalam transliterasi, šewa dan xāţēf ditulis superscript kecil di atas kanan konsonan. Contoh:  be  , xa , ?ε , ’o.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar