Minggu, 05 September 2010

Nomina Bentuk Terikat dalam Bahasa Ibrani (BAGIAN II)


Assala:mu’alaikum….!
Yaaa…!! Kita bertemu lagi.
Mari kita lanjutkan pembahasan mengenai nomina terikat pada frase nominal dalam bahasa Ibrani. Pada tulisan sebelumnya, kita hanya ngebahas pengantar dan gambaran singkat mengenai nomina bentuk terikat. Nah,  untuk yang berikutnya kali ini, kita akan melihat penjelasan singkat mengenai nomina bentuk terikat (construct noun) menurut beberapa ahli gramatika bahasa Ibrani dari buku yang telah mereka tulis.
Langsung aja, deh..! silahkan baca…!!!

NOMINA BENTUK TERIKAT PADA FRASE NOMINAL
DALAM BEBERAPA AYAT GENESIS BERBAHASA IBRANI
(bagian II)

            Dalam bab ini, akan disajikan ikhtisar beberapa pembahasan mengenai nomina terikat yang pernah dibahas oleh beberapa penulis dan ahli tata bahasa dalam beberapa karya dan buku-buku. Karya-karya yang akan disajikan berikut sebagian besar berasal dari tulisan berbahasa Inggris.

2.2 A.B. Davidson (1956)
            Dalam buku  An Introductory Hebrew Grammar, Davidson menjelaskan bahwa “…the cstr. is uttered as shortly as possible in consistency with the laws of pronunciation in the language; therefore any merely tone-long vowel within the word will be shortened or lost.” (hlm. 59).
            Maksud dari penjelasan Davidson yang dituliskan di atas adalah sebuah nomina induk pada FN yang dalam bentuk terikat akan diucapkan sesingkat mungkin. Oleh karena itu, setiap tone-long vowel (vokal panjang yang dapat berubah-ubah karena pengaruh tekanan) dari nomina induk tersebut akan menjadi vokal pendek atau senyap (menjadi šewa) untuk mempersingkat pengucapan.
            Davidson memerikan perubahan-perubahan yang umumnya terjadi pada akhiran adalah sebagai berikut.
  1. Akhiran ם /m/ pada sufiks jamak maskulin ִים /îm/ dan dual ַיִם /ǎyǐm/ dilesapkan sehingga menghasilkan ֵי /ê/.
  2. Akhiran feminin tunggal ָהh/ menjadi ַת /ǎth/.
  3. Akhiran pada jamak feminin וֹת /ôth/ tak berubah, tetapi bentuk jamaknya diperpendek.
Contoh: (10) /çedhāqôthצְדָקוֹת ‘kebenaran-kebenaran’   →       /çǐdhqôth/ צִדְקוֹת
            Davidson juga memberikan beberapa ketentuan mengenai nt dalam emîkhûth.
  • Nomina terikat tidak pernah berartikel
  • Nomina terikat berbentuk definit karena hubungannya dengan nomina bebas dalam konstruksi FN (emîkhûth).
  • Nomina terikat selalu mendahului nomina pewatas.
  • Ajektiva yang menerangkan nomina terikat selalu berada setelah konstruksi FN dan berartikel. Contoh:
(11) /ṣûṣê                  hǎmmělěkh      hǎṭṭôvîm/                           הַטּוֹבִים  הַמֶּלֶךְ  סוּסֵי
                   Kuda (nt.jmk)   (def.)-raja    (def.)-bagus (aj.jmk)
       ‘kuda-kuda raja yang bagus’.
2.3 J. Weingreen (1959)
            Weingreen menjelaskan dalam bukunya yang berjudul A Practical Grammar for Classical Hebrew, bahwa nomina terikat secara alami cenderung diucapkan lebih cepat. Oleh karena itu, sebuah kata dipendekkan [vokal atau bentuk katanya] sedemikian rupa. Perubahan nomina yang terjadi pada nomina terikat merupakan suatu tanda bahwa dari dua nomina pada konstruksi FN diucapkan sekaligus seperti halnya  satu kata.
            Bentuk terikat pada nomina feminin adalah dengan menggunakan akhiran ַת /ǎth/, sedangkan pada jamak maskulin dengan akhiran ֵי /ê/. Weingreen memberikan contoh pada kata דָּבָר /dāvār/ ‘kata’ ke dalam bentuk terikat. Dua perubahan terjadi, yaitu pada silabel בָר  /vār/ diperpendek menjadi בַר /vǎr/. Sedangkan  qāmēç (ָ) /ā/ pada silabel דָּ /dā/ diturunkan menjadi šewa ְ /e/, maka hasil nomina tersebut menjadi דְּבַר /devăr/.
 Begitu juga pada kata חָכָם /xākhām/ ‘orang bijak’. Silabel כָם /khām/ diperpendek menjadi כַם /khǎm/, sedangkan vokal qāmēç (ָ) /ā/pada חָ /xā/ diganti dengan šewa majemuk  ֲ /a/ menjadi חֲ /xa/. Dengan demikian, keseluruhan kata menjadi חֲכַם / xakhǎm/.
דָּ /dā/    →     דְּ /de/
דָּבָר /dāvār/                                                        דְּבַר /devăr/
בָר /vār/  →    בַר /vǎr/
                                                       חָ /xā/    →      חֲ /xa/
                    חָכָם /xākhām/                                                             חֲכַם / xakhǎm/
                                                  כָם /khām/   →    כַם /khǎm/
Gambar 1: Perubahan nt Tunggal menurut Weingreen
            Adapun perubahan pada bentuk jamak דְּבָרִים /devārîm/ dilakukan dengan mengubah בָרִים  /vārîm/ menjadi בְרֵי /verê/ sehingga menghasilkan דְּבְרֵי /deverê/. Akhir dari perubahan tersebut adalah דִּבְרֵי /dĭvrê/. Contoh kedua yang diberikan Weingreen adalah pada kata חֲכָמִים /xakhāmîm/ dengan perubahan כָמִים /khāmîm/ menjadi כְמֵי /khemê/ untuk kemudian menjadi חֲכְמֵי /xakhmê/ setelah ditambah dengan silabel pertama. Hasil akhir kata tersebut adalah חַכְמֵי /xǎkhmê/ setelah vokal šewa majemuk xāṭēf-páthǎx ֲ  /a/ diganti dengan vokal pendek ַ /ǎ/ (páthǎx) yang mempunyai hubungan bunyi a dengan xāṭēf-páthǎx tersebut.
                                                    דְּ /de/
דְּבָרִים /devārîm/                                                              דְּבְרֵי /devrê/*   →   דִּבְרֵי /dĭvrê/
                                 בָרִים /vārîm/   →   בְרֵי /verê/

                                                       חֲ /xa/
חֲכָמִים /xakhāmîm/                                                         חֲכְמֵי /xakhmê/* →   חַכְמֵי /xǎkhmê/
                                 כָמִים /khāmîm/ →  כְמֵי /khe
Gambar 2: Perubahan nt Jamak menurut Weingreen

2.4 C.L. Seow (1988)
            Seow menjelaskan nomina terikat dalam tataran konstruksi FN genitif, dalam bukunya yang berjudul A Grammar for Biblical Hebrew, bahwa nomina terikat merupakan nomina yang bersandar; tekanan utamanya pindah; ketakrifannya bergantung pada kata di depannya. Selain itu, nomina terikat tidak berartikel definit. Beberapa ketentuan kedefinitan nomina dalam konstruksi FN adalah.
  • Nomina pewatas dapat berbentuk indefinit
           (12)  /?îš              mǐlxāmāh/                                                                מִלְחָמָה  אִישׁ
      ‘laki-laki        perang’        atau    ‘kesatria’
  • Nomina pewatas dapat berbentuk definit
(13) /’ěvědh ?ǎvrāhām/         ‘budak Ibrahim’                                     אַבְרָהם  עֶבֶד
  • Karena nomina terikat tak berartikel definit, maka hubungan antara nomina induk dan pewatas dapat digambarkan dengan menggunakan preposisi לְ /le/.
(14) /mǐzmōr      le         dāwǐdh/                                                           לְדָּוִד   מִזְמֹר
                   Mazmur   untuk    Daud
                   ‘Mazmur Daud’
            Seow menjelaskan bahwa nomina dalam bentuk terikat sering kehilangan tekanan utamanya dan mengalami perubahan morfologis seperti penjelasannya berikut ini.
1.      Vokal  ֵ  /ē/ dalam nomina monosilabel berubah menjadi  ֶ  /ě/ ketika bergabung dengan nomina bebas yang dihubungkan dengan tanda (־) maqqēf.
Contoh: (15) /bēn/  בֵּן  ‘putra’                                      →                      /běn/  בֶּן־ 
2.      Akhiran dual ַיִם /ǎyǐm/ dan jamak maskulin ִים /îm/ menjadi ֵי /ê/.
Contoh: (16) /’ênǎyǐm/  עֵינַיִם  ‘dua bola mata’            →                    /’ênê/  עֵינֵי
              (17) /?adhōnîm/  אֲדֹנִים  ‘tuan-tuan’               →             /?adhōnê/  אֲדֹנֵי
3.      Akhiran feminin ָהh/ menjadi ַת /ǎth/.
Contoh: (18) /tôrāhתּוֹרָה      ‘Taurat’                       →                   /tôrǎthתּוֹרַת
4.      Vokal ָ /ā/ pada silabel tertutup di akhir kata menjadi ַ /ǎ/.
Contoh: (19) /mǎl?ākhמַלְאָךְ  ‘malaikat; utusan’         →         /mǎl?ǎkh/   מַלְאַךְ
5.      Pada silabel terbuka, vokal ָ /ā/ dan ֵ /ē/ menjadi šewa ְ /e/, sedangkan vokal ֹ  /ō/ tak berubah.
Contoh: (20) /šālôm/   שָׁלוֹם  ‘salam, damai’                →                     /šelôm/  שְׁלוֹם
              (21) /šēmôthשֵׁמוֹת  ‘nama-nama’                  →                    /šemôthשְׁמוֹת
             (22) /kōhēn/   כֹּהֵן  ‘pendeta; imam’               →                      /kōhēn/  כֹּהֵן
6.      Vokal panjang yang berfungsi sebagai penutup kekurangan dari salah satu konstituen di dalam kata, tidak dapat diturunkan menjadi vokal pendek atau šewa (misal,  bentuk jamak pada nomina monosilabel yang berasal dari akar kata dengan konsonan ר /r/ atau gutural yang sama pada radikal kedua dan ketiga).
Contoh: (23) sarr > /sārîm/  שָׂרִים  ‘pemerintah’   →  /sārê/  שָׂרֵי   bukan  /serê/  שְׂרֵי
7.      Akhiran ֶהh/ menjadi ֵהh/
Contoh: (24) /mǐštěhמִשְׁתֶּה ‘pesta, perjamuan’          →                   /mǐštēh/   מִשׁתֵּה
8.      Bentuk nomina dengan dasar aw berkontraksi menjadi וֹ /ô/.
Contoh: (25) /māwěthמָוֶת  ‘maut, kematian’           →                          /môth/   מוֹת
9.      Bentuk nomina dengan dasar ay berkontraksi menjadi ֵי /ê/.
Contoh: (26) /bāyǐthבָּיִת  ‘rumah’                            →                            /bêth/   בֵּית

10.  Nomina segholate jamak kembali ke bentuk dasarnya, yaitu qǎṭl, qǐṭl, dan qǔṭl (qǒṭl) ketika dalam bentuk terikat.
Contoh: (27) qǎṭl   >   /melākhîm/  מְלָכִים  ‘raja-raja’         →              /mǎlkhê/   מַלְכֵי
             (28)  qǐṭl   >   /ṣefārîm/  סְפָרִים  ‘buku-buku’         →                  /ṣǐfrê/   סִפְרֵי
             (29) qǔṭl (qǒṭl) > /xodhāšîm/  חֳדָשִׁים  ‘bulan-bulan baru’  →   /xǒdhšê/  חָדְשֵׁי
11.  Apabila penurunan vokal menghasilkan dua vokal šewa maka perubahan pada vokal pertama umumnya menjadi ǐ sedangkan yang kedua menjadi senyap. Jika šewa pertama merupakan šewa majemuk (xāṭēf ) maka vokal tersebut berubah menjadi vokal pendek yang masih berhubungan atau sepadan dengan  xāṭēf tersebut.
                            דְּבָרִים     >      *דְּבָרֵי    >     *דְּבְרֵי    >    דִּבְרֵי
Contoh: (30)    /devārîm/  >  */devārê/  >  */devrê/  >  /dĭvrê/.
12.  Nomina bentuk bebas dengan pola qāṭēl akan menjadi qeṭǎl
Contoh: (31) /zāqēn/    זָקֵן        ‘orang tua’                   →                       /zeqǎn/         זְקַן

2.5 Ruth A. Berman (1997)
            The Semitic Languages merupakan sebuah buku kumpulan tulisan mengenai bahasa-bahasa Semit klasik dan modern. Salah satu penulis di dalamnya adalah Ruth A. Berman yang menulis tentang bahasa Ibrani modern. Ruth sedikit menjelaskan secara umum mengenai nomina terikat dalam konstruksi frase nominal (FN) genitif dan sufiks posesif. FN genitif dalam bahasa Ibrani yang disebut emîkhûth merupakan dua nomina yang saling terikat. Disebutkan bahwa perubahan nomina ke bentuk terikat mencakup salah satu dari beberapa perubahan fonologis di antaranya adalah penurunan vokal dan kontraksi, serta beberapa proses alternasi morfologis.
            Sayangnya, Ruth tidak memberikan penjelasan secara rinci bagaimana sistematika perubahan-perubahan yang terjadi dalam bentuk terikat. Selain itu, dalam buku tersebut semua contoh diberikan dengan transliterasi huruf latin yang kurang spesifik sehingga sulit membedakan antara  vokal pendek dan panjang. Untuk itu, saya mengganti transliterasi pada contoh yang diberikan oleh Ruth dengan sistem transliterasi yang saya gunakan.
            Ruth memberikan contoh beberapa bentuk nomina terikat sebagai berikut.
Bentuk bebas
Jamak
Sufiks posesif
Frase nominal
dāvār  ‘kata, perkataan’
xědhěr  ‘kamar, ruang’
der-îm
xadhār-îm
der- āh  ‘perkataannya (f)’
xǎdhr-ô  ‘kamarnya (m)’
der hā?ēl  ‘kata-kata Tuhan’
xadhǎr ?ôkhěl  ‘ruang makan’

Tabel 2:  Contoh infleksi nomina oleh Ruth.

            Ruth menjelaskan bahwa bentuk terikat jarang sekali digunakan untuk penggunaan dan percakapan sehari-hari. Sebagai gantinya, dalam konstruksi FN, digunakan partikel genitif שֶׁל /šěl/ ’milik’ karena dianggap lebih analitis atau mudah dipahami. Kedua bentuk tersebut dapat dibandingkan pada kedua contoh berikut.
(32) /kôvā’îm              šěl      xǎyyālîm/                                               חַייָּלִים  שֶׁל  כּוֹבָעִים
      Topi (nb.m.jmk)  milik   tentara (m.jmk)
      ‘ topi-topi para tentara‘

(33) /kôvǎ’ê                  xǎyyālîm/                                                               חַייָּלִים   כּוֹבַעֵי
      Topi (nt.m.jmk)    tentara (m.jmk)
        ‘topi-topi para tentara‘
            Selain partikel שֶׁל / šěl/, untuk mengganti penggunaan bentuk terikat dalam konstruksi FN, digunakan preposisi guna mendapatkan kejelasan makna.
(34)/sǐmlāh            ’ǐm          pāṣîm/                                                        פָּסִים  עִם  שִׂמְלָה
Pakaian(nb.f)  dengan    garis(m.jmk)
       ‘pakaian bergaris-garis‘
(35) /sǐmlǎth                      pāṣîm/                                                                    פָּסִים  שִׂמְלַת
       Pakaian (nt.f.jmk)      garis (m.jmk)
       ‘pakaian bergaris-garis‘

2.6 Paul Jöun (2000)
      A Grammar of Biblical Hebrew yang diterjemahkan dan direvisi oleh T. Muraoka, merupakan salah satu buku gramatika bahasa Ibrani yang cukup lengkap yang ditulis oleh Paul Jöun. Paul menjelaskan bahwa perubahan yang terjadi dalam nomina terikat akibat hilangnya tekanan utama karena nomina tersebut bersandar pada kata di depannya. Hilangnya tekanan memengaruhi penurunan atau pelesapan vokal.   Dalam bukunya, Paul membagi perubahan pada nt berdasarkan bentuk dasar dari nomina-nomina tersebut. Saya hanya akan memberikan sedikit gambaran penjelasan dari Paul dalam bukunya sebagai berikut ini.

A. Nomina segholate.
            Nomina segholate merupakan nomina hasil modifikasi dari bentuk dasar dengan pola KVKK  yang mendapat vokal bantu yang pada umumnya berupa seghol ֶ /ě/. Dengan vokal bantu tersebut, pola dasarnya berbentuk dissilabel (KVKVK) dan  merupakan nomina bentuk bebas.
            Bentuk nt tunggal dari nomina tersebut sama seperti bentuk bebasnya. Adapun untuk jamak nt, bentuknya kembali ke bentuk dasar dengan tambahan sufiks terikat  ֵי /ê/. Contoh:
            (36) qǎṭl  /mělěkh/   (nb/nt)     מֶלֶךְ              ‘raja’
            (37) qǎṭl  /melākhîm/ (nb.jmk)  ‘raja-raja’    מְלָכִים   →   /mǎlkhê/ (nt.jmk)   מַלְכֵי
B. Nomina berbentuk dasar dengan dua vokal pendek pada kedua silabelnya.
Contoh:
(38)  bentuk dasar maskulin qǎṭǎl : /dāvār/ (nb)  דָּבָר          →      /devăr/ (nt)            דְּבַר
(39)  bentuk dasar feminin qǎṭǎlǎt : /çedhāqāh/ (nb.f)  צְדָקָה  →  /çǐdhqǎth/ (nt.f)      צִדְקַת
C. Nomina berbentuk dasar dengan vokal panjang pada silabel pertama dan pendek pada silabel kedua. Contoh:
(40) bentuk dasar qâṭǎl : /’ôlām/ (nb)   ‘ keabadian’   עוֹלָם      →   /’ôlǎm/ (nt)       עוֹלַם 
D. Nomina berbentuk dasar dengan vokal pendek pada silabel pertama dan panjang pada silabel kedua.
Contoh: bentuk dasar qǎṭîl :
(41) /ṣārîṣ/ (nb)   ‘kasim’     סָרִיס                   →     /ṣerîṣ/  (nt)                               סְרִיס (42) / ṣārîṣîm/ (nb.jmk) ‘kasim-kasim’  סָרִיסִים   →  /ṣārîsê/  (nt.jmk)                     סָרִיסֵי

2.7 Rangkuman
            Dari ikhtisar nomina terikat yang telah ditulis oleh para ahli bahasa di atas, diketahui bahwa para penulis hampir sama dalam mendeskripsikan nomina bentuk terikat (terutama perubahan pada akhiran). Mereka mengatakan bahwa perubahan berupa pemendekan dan penurunan vocal terjadi akibat dari pindah atau hilangnya tekanan utama pada nomina (nomina induk) tersebut.
Akan tetapi, sebagian dari penulis kurang rinci dalam menjelaskan sistematika perubahan pada nomina tersebut. Bahkan, ada beberapa penulis yang tidak menjelaskan perubahannya. Pembahasan menurut Seow dan Paul lah yang dirasa cukup memerinci perubahan-perubahan yang terjadi. Seow mencoba merangkum semua perubahan vokal yang terjadi pada setiap nomina. Adapun Paul menjelaskan infleksi nomina, yang di dalamnya termasuk infleksi pada emîkhûth (FN), menurut bentuk dari pola dasar setiap nomina.
Sementara itu, Seow dan Davidson sedikit membahas mengenai hubungan nomina terikat dengan tataran FN genitif,. Nomina terikat tidak berartikel sama halnya dengan muḍaf dalam iḍafah pada bahasa Arab. Ruth lebih banyak membandingkan penggunaan  partikel שֶׁל /šěl/ dan לְ /le/ yang intensitas penggunaannya lebih sering pada pemakaiaan sehari-hari sebagai pengganti emîkhûth

Untuk sementara, sekian dulu. kita akan bahas lebih jauh lagi pada tulisan berikutnya.
Assala:mu'alaikum....!!!
BERSAMBUNG


Kamis, 02 September 2010

Nomina Bentuk Terikat dalam Bahasa Ibrani (BAGIAN I)

Assala:mu’alaikum…..!
Apa kalian ada yang tahu bahasa Ibrani?
Sebagian besar dari kita pasti sudah pada tau, bahkan bisa menggunakannya untuk percakapan sehari-hari. Bahasa Ibrani itu, bahasa nasionalnya orang Israel juga bahasa dalam Torah (Taurat) Yahudi atau Old Testament.
Bagi kita di Indonesia, bahasa Ibrani sebenernya gak terlalu asing karena kita biasa denger kata-kata dalam bahasa Ibrani digunakan untuk nama gereja atau nama orang, contohnye gereja Betel, Lahai Roi, Immanuel, Semuel, Rahel, Ruben, dan lain-lain.
Nah, biar bisa tau kata-kata lain dalam bahasa Ibrani sekedar untuk nambah pengetahuan, berikut ini ada uraian mengenai nomina/kata dalam bahasa Ibrani.
Kita bagi-bagi ilmu dikit, yeee….!!!  Tafadhdhalu: iqrau:


NOMINA BENTUK TERIKAT PADA FRASE NOMINAL

DALAM BEBERAPA AYAT GENESIS BERBAHASA IBRANI (Bagian I)

Latar Belakang
Salah satu satuan terbesar setelah kata adalah frase. Menurut Harimurti (2001: 59), frase adalah gabungan dua kata atau lebih yang sifatnya tidak predikatif. Gabungan dua kata tersebut dapat berupa frase nominal (FN). Secara umum, FN merupakan kelompok kata yang terdiri atas dua konstituen, yaitu konstituen induk dan konstituen modifikator (pewatas). Gabungan antara induk FN dan pewatasnya  dapat membentuk konstruksi baru yang bermakna baru pula. Misalnya pada contoh frase ‘mobil mahasiswa’ terdiri atas nomina induk (mobil) dan nomina pewatas (mahasiswa) yang masing-masing memiliki maknanya sendiri. Kemudian ketika kedua nomina tersebut bergabung menjadi sebuah frase, ia memiliki makna baru yang bias berarti mobil milik mahasiswa atau khusus untuk angkutan mahasiswa dan bukan mobil milik atau digunakan untuk dosen, guru, atau masyarakat umum lainnya.
Frase-frase itu sendiri memiliki cirri khas pada setiaap bahasa yang berbeda. Contohnya mari kita lihat pada bahasa Arab dan bahasa Ibrani yang akan dibandingkan dan dibahas pada bagian selanjutnya. Gabungan antara nomina induk dan nomina pewatas dalam bahasa Arab (bA) disebutdinamakan dengan iḍafa atau FN genitif. Iḍafa digambarkan dengan dua buah nomina yang saling terikat, yaitu nomina induk yang disebut muḍaf dan nomina pewatas yang disebut muḍaf ilaih. Iḍafa disebut juga sebagai FN genitive dikarenakan muḍaf dapat menyebabkan muḍaf ilaih berada dalam kasus genitif karena pengeruhnya sebagai nomina induk. Berikut ini merupakan contoh iḍafa.
 (1) /mu’allim al-ja:mi’a(ti)/,           ‘pengajar universitas                   معلّم الجاَمعة
Kata pertama (معلّم) /mu’allim/ pada contoh (1) adalah induk FN atau muḍaf , dan kata kedua الجاَمعة /al-ja:mi’a(ti)/ adalah pewatas atau muḍaf ilaih. Vokal muḍaf pada umumnya tidak banyak mengalami perubahan. Perubahan pada muḍaf dapat terjadi pada konstituen terakhir atau sufiks bentuk dual dan jamak sesuai  posisi konstruksi tersebut pada kasus nominatif, akusatif, dan genitif yang didahului preposisi (frase preposisional) dalam kalimat.
Sufiks-sufiks jamak dan dual adalah: ـُون /u:na/ (nom.) dan ـِين /i:na/ (aku./gen.) pada jamak maskulin; ـَان /a:ni/ (nom.) dan ـَيْن /ayni/ (aku./gen.) pada dual; serta ـَاتٌ  /a:tun/ (nom.) dan ـَاتٍ /a:tin/ (aku./gen.) yang ditambahkan pada jamak feminin setelah menghilangkan sufiks feminin ـَة /a(t)/. Berikut ini adalah contoh nomina dengan sufiks dual dan jamak.
(2) /mu’allimata:ni/                      ‘dua orang pengajar (f)’                      معلمتان
(3) /mu’allimu:na/                             ‘pengajar-pengajar’                          معلمون
Perubahan terjadi pada sufiks dual dan jamak maskulin berupa pelesapan konsonan ( ن ) /n/, dan pada jamak feminin dengan menggantikan tanwin (ـٍ / ـٌ) /in/ atau /un/ menjadi vokal biasa (ـِ / ـُ ) /i/ atau /u/.  Berikut ini adalah contoh konstruksi iḍafa.
(4) /mu’allimata: al-ja:mi’a(ti)/    ‘dua orang pengajar (f) universitas’        الجامعة  معلمتا
(5) /mu’allimu: al-ja:mi’a(ti)/             ‘para pengajar universitas’               معلمو  الجامعة  
                                                Maskulin                                                     Feminin
Dual    nom.             mu’allima:ni   →  mu’allima:                mu’allimata:ni   →  mu’allimata:
            aku./gen.      mu’allimayni  →  mu’allimay               mu’allimatayni  →  mu’allimatay
Jamak  nom.             mu’allimu:na  →  mu’allimu:               mu’allima:tun   →  mu’allima:tu
            aku./gen.       mu’allimi:na   →  mu’allimi:                mu’allima:tin    →  mu’allima:ti

Tabel 1: Infleksi Nomina dalam bA.
            Bahasa Ibrani (bIB) yang masih sekerabat dalam rumpun bahasa Semit dengan bA, mempunyai perbedaan dalam bentuk nomina induk FN-nya. Dalam bIB, perubahan pada nomina induk tidak hanya terjadi pada konstituen akhir kata saja, tetapi dapat terjadi dalam keseluruhan vokal kata tersebut.
            FN (nomina + nomina) dalam bIB disebut סְמִיכוּת /ṣemîkhûth/. Hubungan antar nomina dalam FN genitif bIB dinyatakan dengan keterikatan dan ketergantungan antara dua nomina, yaitu nomen regens / governing noun (nomina yang menguasai) dan nomen rectum / governed noun (nomina yang dikuasai) (Joüon, 2000: 276). Pada kata דָּבָר /dāvār/ ‘kata, perkataan’ serta bentuk jamaknya דְּבָרִים / devārîm/,  FN genitif dapat mengalami perubahan dalam konstruksi seperti berikut ini:
(6)  /devǎr ?εlōhîm/                              ‘firman Tuhan’                                    אֱלֹהִים דְּבַר
(7) /dĭvrê ?εlōhîm/                         ‘firman-firman Tuhan’   דִּבְרֵי   אֱלֹהִים                       
 Pada contoh (6) kata yang pertama, דְּבַר /devǎr/ ‘perkataan’ adalah induk frase yang tidak berartikel. Adapun kata אֱלֹהִים  /?εlōhîm/ ‘Tuhan’ adalah pewatas yang selalu mengikuti induk frase. Hal tersebut juga serupa pada contoh (7). Pada kedua contoh frase tersebut, kata yang pertama (induk frase) dalam keadaan terikat karena bersandar pada kata yang mengikutinya (pewatas). Oleh karena itu, dengan mengikuti dosen yang telah mengajar dan membimbing saya, maka nomina itu kami sebut sebagai nomina terikat (nt) (construct state). Kebalikan dari keadaan terikat adalah nomina bebas (nb) (absolute state). Hal tersebut dapat terlihat seperti konstruksi modifikasi, yaitu konstruksi gramatikal yang terdiri atas induk dan modifikator.
            דָּבָר /dāvār/ merupakan kata yang berbentuk nomina bebas (nb) (absolute state). Ia dapat mengalami perubahan menjadi דְּבַר /devǎr/ ketika dalam bentuk terikat(construct state). Kata tersebut juga akan mengalami perubahan pada bentuk nomina jamak bebas (absolute state) setelah diberi sufiks jamak ִים /îm/ menjadi דְּבָרִים /devārîm/. Ia pun juga akan mengalami perubahan pada bentuk jamak terikat (construct state) menjadi דִּבְרֵי /dĭvrê/. Mengapa terjadi demikian?
            Hubungan keterikatan dalam emîkhûth (FN) mengakibatkan pelemahan atau perpindahan tekanan utama (primer) dari nomina induk frase kepada nomina pewatas  di depannya. Perpindahan ini mengakibatkan kata yang kehilangan tekanan utama menjadi lebih lemah sehingga mengalami perubahan vokal.
            Dalam bIB, terdapat unsur suprasegmental berupa tekanan. Kata dalam bIB pada umumnya mempunyai tekanan utama pada silabel terakhir (ultima) yang disebut milra’ (dari bawah). Selain itu, terdapat beberapa kata yang mempunyai tekanan utama pada silabel kedua dari akhir (penultima) yang disebut mil’el (dari atas). Pergeseran atau hilangnya tekanan dapat menyebabkan perubahan vokal seperti halnya dalam hubungan keterikatan pada frase genitif, atau dengan adanya penambahan sufiks.
            Berikut ini contoh nomina bentuk terikat.
(8) דָּבָר / dāvār/ tgl.  m. nb.            →         דְּבַר /devǎr/ tgl. m. nt.
(9) דְּבָרִים / devārîm/ jmk. m.nb.      →         דִּבְרֵי /dĭvrê/ jmk. m. nt.
            Kata דָּבָר, dengan tekanan pada silabel terakhir, berasal dari nomina berbentuk dasar dengan vokal pendek pada kedua silabelnya (דַּבַר /dǎvǎr/). ketika dalam bentuk terikat, tekanan utama berpindah satu silabel ke depan atau kepada kata di depannya. Oleh karena itu, vokal panjang qāmēç (ָ) /ā/ pada silabel terakhir yang kehilangan tekanan kembali kepada bentuk dasarnya, yaitu vokal pendek páthǎx ַ /ǎ/. Adapun vokal pada silabel pertama, yang semakin jauh dari tekanan, melemah menjadi šewa ְ /e/. Dengan demikian,  keseluruhan kata berubah menjadi דְּבַר /devǎr/. Alur perubahan ini dapat kita lihat pada ilustrasi berikut ini.
                 1      0    1                                                                      2   0            2
            דָּבָר / dāvār/ (nb)    <    דַּבַר /dǎvǎr/ (nd)    →    דְּבַר    /devǎr/ (nt).
            Sementara itu, nomina jamak bentuk bebas דְּבָרִים / devārîm/ ketika dalam bentuk terikat mengalami perubahan dengan berpindahnya tekanan dua silabel ke depan atau kepada nomina pewatas di depannya. Akar kata bentuk jamak dikembalikan pada bentuk dasarnya terlebih dahulu. Setelah itu, vokal pendek páthǎx ַ  /ǎ/ dari bentuk dasar pada silabel kedua berubah menjadi šewa ְ /e/. Adapun vokal pendek  páthǎx ַ /ǎ/ dari bentuk dasar pada silabel pertama, yang semakin jauh dari tekanan utama, melemah menjadi vokal pendek xîrěq ִ /ǐ/. Dengan demikian, kita akan mendapatkan perubahan kata dasar itu menjadi דִּבְר /dĭvr/. Setelah itu, sufiks jamak bentuk bebas ִים /îm/ digantikan dengan sufiks jamak bentuk terikat ֵי /ê/ sehingga nomina itu pun berubah menjadi דִּבְרֵי /dĭvrê/. Berikut ini adalah ilustrasi dari perubahan tersebut.
                                       1                                                                                            2
      קַטַל (nd)   >   קְטָלִים (nb.jmk)   →    קַטַלִים*    →  קִטְלִים*  →      קִטְלֵי    (nt.jmk)
                                     1                                                                                      2
   qǎṭǎl (nd)  >  qeṭālîm (nb.jmk)  →  qǎṭǎlîm*  →  qǐṭlîm*  →  qǐṭlê      (nt.jmk)
            Perubahan dari sedikit gambaran pada contoh nt di atas mungkin dapat membuat kita, khususnya yang tengah mempelajari bahasa Ibrani, menjadi bingung. Padahal, contoh di atas merupakan salah satu yang mendasar dari sebuah nomina dalam bIB. Belum lagi, akan kita itemui nomina yang perubahannya tidak beraturan, pasti akan bikin kita makin pusing. Sebagian dari kita mungkin akan menganggap kalau bahasa ini gak jelas, gak konsisten, berliku-liku, dan suka berpaling, sama seperti sifat penutur aslinya (orang Israel). Ya, hal itu bisa saja benar karena bahasa mencerminkan kepribadian bangsa.
Mengenai pengantar nomina bentuk terikat ini kita sudahi sampai di sini dulu. Pembahasan seterusnya akan kita lanjutkan pada artikel bagian II berikutnya. Mudah-mudahan bermanfaat, yeee…..!!!

So….Wassalamu’alaikum…..!!!
BERSAMBUNG…….

NB: Supaya bisa baca aksara Ibrani, lihatlah transliterasi berikut ini. 

DAFTAR TRANSLITERASI KONSONAN
IBRANI – LATIN

Huruf
Nama
Transliterasi

di akhir kata
א
ב      בּ
ג       גּ
ד       דּ
ה
ו
ז
ח
ט
י
כ      כּ
ל
מ
נ
ס
ע
פ      פּ
צ
ק
ר
שׂ      שׁ
ת       תּ










ך

ם
ן


ף
ץ
‘Alef
Bêth
Gîmel
Dāleth
Wāw
Záyin
Xêth
Ṭêth
Yôdh
Kaf
Lāmedh
Mêm
Nûn
Ṣāmekh
‘Ayin
Çādhê
Qôf
Rêš
Sîn       Šîn
Tāw
?
v       b
gh      g
dh      d
h
w
z
x
y
kh      k
l
m
n
f       p
ç
q
r
s       š
th      t


DAFTAR TRANSLITERASI VOKAL
IBRANI – LATIN

                 Vokal Panjang                                                    Vokal Pendek
Tanda
Nama
Transliterasi

Tanda
Nama
Transliterasi
ָ
Qāmēç
 ā      ā
ַ
Páthǎx
ǎ      ǎ
ֵ
ֵי
Çērê
ē      ē
ê      ê
ֶ
Şeghôl
ě      ě
ִי
Xîrěq (panjang)
î       î
ִ
Xîrěq
ǐ      ǐ
וֹ
ֺ
Xōlĕm
ô      ô
ō      ō
ָ
Qāmēç-xaţûf
ǒ     ǒ
וּ
Šûrĕq
û      û
ֻ
Qĭbbûç
ǔ     ǔ


Šewa dan Šewa Majemuk (Xāţēf)
Tanda
Nama
Transliterasi
ְ
Šewa
e   
(atau tak ditransliterasikan seperti sukun dalam bA)
ֲ
Xāţēf- Páthǎx
a
ֱ
Xāţēf-Şeghôl
ε
ֳ
Xāţēf-Qāmēç-Xaţûf
o
Harrison,R.K. Biblical Hebrew. Hodder dan Stoughton. Great Britain. 1955.                     
Dalam transliterasi, šewa dan xāţēf ditulis superscript kecil di atas kanan konsonan. Contoh:  be  , xa , ?ε , ’o.