Assala:mu’alaikum……! Annyeonghaseyo…..!!
Sebagian besar rekan-rekan mungkin telah mengetahui bahwa جملة jumlah/tun dalam bahasa Arab berarti “kalimat” dalam bahasa Indonesia . Sementara, كلمة kalimah/tun berarti “kata” dalam bahasa Indonesia . Mengapa terjemahannya terlihat tidak sesuai antara كلمة kalimah dan “kalimat”? Saya tidak akan bahas itu. Hehehe….
Yang ingin saya sampaikan kali ini adalah mengenai jumlah (kalimat) dalam Al-‘Arabiyyah. Jumlah dalam bahasa Arab terbagi dalam dua macam, yaitu اسمية جملة jumla ismiyya (kalimat nominal) dan فعلية جملة jumla fi’liyya (kalimat verbal). اسمية جملة jumla ismiyya dikenal sebagai kalimat yang dimulai dengan اسم ism (nomina) atau subyeknya berada pada permulaan kalimat. Adapun فعلية جملة jumla fi’liyya merupakan kalimat yang dimulai dengan فعل fi’l (verba).
Nah, yang ingin saya bahas di sini adalah mengenai اسمية جملة jumla ismiyya. Seperti namanya, jumlah ismiyyah biasa diawali dengan isim. Konstruksi kalimat ini memiliki dua bagian yang disebut مبتدأ mubtadaɁ dan خبر /المبتدأ خبر xabar/xabar al-mubtadaɁ.
MubtadaɁ, yang berarti ‘permulaan’, merupakan subyek kalimat yang berbentuk definit (معرفة ma’rifa). Karena selaku subyek kalimat, ia selalu berada dalam kasus nominatif (مرفوع marfu:’), yaitu berharakat ضمّة ḍamma (ُ u) pada akhir kata.
Contoh: مفلسٌ الناشرُ an-na:širu muflisun
(itu)penerbit bangkrut
‘penerbit itu bangkrut’
التلفاز في مشهورٌ الشرطىُّ aš-šurṭiyyu mašhu:run fi: t-tilfa:z
(itu)polisi terkenal di (itu)televisi
‘polisi itu terkenal di televisi’
Kata الناشرُ an-na:širu dan الشرطىُّ aš-šurṭiyyu pada kalimat nominal di atas merupakan مبتدأ mubtadaɁ atau subyek kalimat.
Adapun xabar, yang berarti ‘berita’ atau ‘informasi’, merupakan predikat kalimat yang berfungsi untuk menandai atau memberitahukan mengenai subyek, juga untuk membuat kalimat menjadi sempurna (مفيدة جملة jumla mufi”da). Xabar terdiri atas tiga jenis.
Pertama, xabar yang berbentuk kata tunggal (مفرد اسم ism mufrad). Xabar ini berbentuk indefinit (نكرة nakira) dan berkasus nominatif (berharakat ضمّة ḍamma) seperti mubtadaɁ. Ia juga mengikuti aturan kesesuaian terhadap mubtadaɁ yang diberitakannya. Maksudnya, jika mubtadaɁ berupa kata dari golongan makhluk berakal, maka xabar harus menyesuaikan bentuk yang sama seperti mubtadaɁ dalam jenis (feminin/maskulin) dan jumlah (tunggal, dual, dan jamak).
Contoh: الإختبار في ناجحةٌ التلميذةُ at-tilmi:ðatu na:jiḥatun fi: l-Ɂixtiba:ri
(itu)murid (pr) lulus di (itu)ujian
‘murid perempuan itu lulus dalam ujian’
الإختبار في ناجحان التلميذان at-tilmi:ða:ni na:jiḥa:ni fi: l-Ɂixtiba:ri
(itu)murid(lk)-dual lulus-(dual) di (itu)ujian
‘kedua murid laki-laki itu lulus dalam ujian’
الإختبار في ناجحون التلاميذُ at-tala:mi:ðu na:jiḥu:na fi: l-Ɂixtiba:ri
(itu)murid-pl lulus-pl di (itu)ujian
‘para murid laki-laki itu lulus dalam ujian’
Pada contoh di atas, التلميذةُ at-tilmi:ðatu merupakan mubtadaɁ yang berupa nomina feminin (مُؤنّث mu?annaθ) tunggal, maka xabar kalimat itu juga berupa kata berjenis feminin tunggal ناجحةٌ na:jiḥatun.
MubtadaɁ pada kalimat kedua, yaitu التلميذان at-tilmi:ða:ni, merupakan nomina maskulin (مُذكّر muðakkar) berbentuk dual. Oleh karena itu, xabar-nya juga berupa kata berbentuk dual maskulin ناجحان na:jiḥa:ni. Hal serupa juga terjadi pada kalimat ketiga yang mubtadaɁ dan xabar-nya berupa kata jamak.
Namun, jika mubtadaɁ berupa makhluk tak berakal atau kata benda abstrak berbentuk jamak, maka xabar cukup dalam bentuk kata feminin tunggal.
Contoh: صعبةٌ الإمتحاناتُ al-Ɂimtiḥa:na:tu ṣa’batun
(itu)ujian-fpl sulit-f
‘ujian-ujian itu sulit’
Pada contoh di atas, الإمتحاناتُ al-Ɂimtiḥa:na:tu adalah mubtadaɁ yang berupa nomina feminin jamak dari kata abstrak atau tak berakal. Dengan demikian, xabar-nya cukup dalam bentuk kata feminin tunggal صعبةٌ ṣa’batun.
Kedua, Xabar yang berupa jumlah (kalimat) baik ismiyyah maupun fi’liyyah. Xabar yang berupa jumlah harus mengandung penanda pronomina (ضمير ḍami:r) yang sesuai dengan mubtadaɁ-nya. Pada xabar yang berbentuk jumlah ismiyyah, penanda ضمير ḍami:r berupa sufiks pronomina (متصل ضمير ḍami:r muttaṣil).
Contoh: كثيرةٌ سيّارتُها المدبّرةُ al-mudabbiratu sayya:ratuha: kaθi:ratun
(itu)manajer(pr) mobil-nya(f) banyak
‘manajer perempuan itu mobilnya ada banyak’
الملعبِ داخل يضاربان المدرّبان al-mudarriba:ni yuḍa:riba:ni da:xila l-mal’abi
(itu)pelatih-dual 3mdual-berkelahi di dalam (itu)lapangan
‘kedua pelatih itu berkelahi di dalam lapangan’
MubtadaɁ pada kalimat pertama adalah المدبّرةُ al-mudabbiratu yang berjenis feminin tunggal, sedangkan xabar-nya adalah كثيرةٌ سيّارتُها sayya:ratuha: kaθi:ratun yang berupa jumlah ismiyyah. Pada xabar itu dicantumkan sufiks pronomina orang ketiga tunggal feminin هَا ha: “nya” (di kata سيارة sayya:ra) yang mengacu kepada المدبّرةُ al-mudabbiratu selaku mubtadaɁ.
Adapun mubtadaɁ pada kalimat kedua adalah المدرّبان al-mudarriba:ni yang berupa nomina berjenis maskulin dual, sedangkan xabar-nya adalah يضاربان yuḍa:riba:ni. Xabar yang berupa fi’l (verba) itu harus sesuai dengan mubtadaɁ-nya, sehingga bentuknya adalah verba orang ketiga dual maskulin.
Ketiga, xabar berupa atau mengandung preposisi dan kata yang didahuluinya (ومجرور جار ja:r wamajru:r), atau kata keterangan tempat (مكان ظرف ẓarf maka:n) dan kata keterangan waktu (زمان ظرف ẓarf zama:n).
Contoh: السرير على زينبُ zainabu ‘ala: s-sari:ri
Zainab atas (itu)ranjang
‘Zainab ada di atas ranjang’
السجن أمام الرئيس زوجةُ zaujatu r-raɁi:si Ɂama:ma s-sijni
Isteri (itu)presiden di depan (itu)penjara
‘isteri presiden itu ada di depan penjara’
السبت يوم قبل الجمعة يومُ yaumu l-jum’ati qabla yaumi s-sabti
hari (itu)jum’at sebelum hari (itu)sabtu
‘hari Jum’at ada pada sebelum hari Sabtu’
MubtadaɁ pada kalimat pertama adalah زينبُ zainabu, sedangkan xabar-nya adalah السرير على ‘ala: s-sari:ri yang terdiri atas preposisi على ‘ala: dan diikuti kata السرير as-sari:r yang dalam keadaan مجرور majru:r.
Adapun mubtadaɁ kalimat kedua dan ketiga adalah الرئيس زوجةُ zaujatu r-raɁi:si dan الجمعة يومُ yaumu l-jum’ati . Xabar kedua kalimat itu adalah أمام Ɂama:ma yang berupa kata keterangan tempat dan قبل qabla yang berupa kata keterangan waktu.
Sebelumnya, telah disebutkan bahwa mubtadaɁ selalu berbentuk definit dalam jumlah ismiyyah. Namun, ada juga mubtadaɁ yang berbentuk indefinit ( نكرة nakira). Jika mubtadaɁ dalam kalimat itu berbentuk indefinit, maka ia tidak diletakkan di awal kalimat. Sebagai gantinya, xabar-lah yang mendahului mubtadaɁ-nya, sehingga hal itu disebut sebagai مقدّم خبر xabar muqaddam/ المبتدأ على الخبر تقدّم taqaddumu l-xabari ‘ala: l-mubtadaɁ, yaitu xabar yang mendahului mubtadaɁ.
Contoh: وردةٌ البستانِ في fi: l-busta:ni wardatun
di (itu)kebun mawar
‘di kebun itu, ada setangkai mawar/ ada setangkai mawar di kebun itu’
Pada kalimat di atas, mubtadaɁ وردةٌ wardatun yang berbentuk indefinit diletakkan setelah xabar البستانِ في fi: l-busta:ni.
Kiranya sekian saja apa yang bisa saya sampaikan. Jika terdapat kesalahan, mohon dima’afkan dan jangan sungkan untuk memerbaiki dan memberi masukkan.
شكرا
감사합니다
Assala:mu’alaikum…..!! Annyeong……..!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar