Jumat, 18 Februari 2011

Deklinasi pada Isim dan Kasusnya (1)


Assala:mu’alaikum……!   Annyeonghaseyo…….!!

Kali ini saya mau menyampaikan sedikit tentang pembagian isim dalam Al-‘arabiyya. Kita mulai begini; harakat dalam bahasa Arab, terutama harakat atau vokal akhir, sangat penting karena dapat menjadi penentu kasus pada kata sehingga diketahui kedudukannya dalam sebuah kalimat. Mengenai harakat/ vokal akhir ini termasuk dalam pembahasan deklinasi (إعراب Ɂi’ra:b). Nah, berdasarkan keadaan vokal akhirnya, isim dibagi dalam dua kelompok, yaitu indeklinatif (مبنىّ mabniyy) dan deklinatif (معرب mu’rab).
Mabni merupakan sebutan bagi kata yang vokal akhirnya tetap atau tidak mengalami perubahan dalam berbagai kasus pada sebuah kalimat. Kata-kata yang mabni, antara lain: preposisi (حرف ḥarf), pronomina (ضمير ḍami:r), pronomina demonstratif (الإشارة اسم ism al-Ɂiša:ra), pronomina relatif (الموصول اسم ism al-mauṣu:l), kata tanya (الاستفهام اسم ism al-istifha:m), beberapa adverbia (ظرف ẓarf), dan sebagainya.

Sedangkan mu’rab merupakan kata yang vokal akhirnya dapat mengalami perubahan dalam berbagai kasus pada sebuah kalimat. Adapun ketiga kasus yang dapat dialami oleh isim-isim itu ada tiga, yaitu:

a) Nominatif (رفع raf’), ditandai oleh harakat ضمّة ḍamma (ُ u/ ٌ un) pada akhir kata. Sebuah kata yang berada dalam keadaan kasus nominatif disebut مرفوع marfu:’. Nominatif digunakan untuk menentukan kedudukan kata sebagai subjek kalimat atau predikat pada sebuah kalimat nominal (الاسمية جملة jumlatu l-ismiyya).

b) Akusatif (نصب naṣb), ditandai dengan harakat فتحة fatḥa (َ a/ ً an) pada akhir kata. Kata yang dalam keadaan akusatif disebut منصوب manṣu:b. Kasus akusatif digunakan untuk menentukan kedudukan kata sebagai objek atau keterangan (adverbia).

c) Genitif (جرّ jarr), ditandai dengan كسرة kasra (ِ i/ ٍ in) di akhir kata. kata yang berada dalam keadaan genitif disebut مجرور majru:r. Kasus genitif menandakan posesif (kepemilikan) atau kedudukan kata sebagai nomina pewatas (إليه مضاف muḍa:f Ɂilaih)  dalam konstruksi اضافة iḍa:fa (frase) dan menandakan kata yang didahului oleh preposisi.

Sementara itu, kata yang mu’rab dibagi menjadi dua macam, yaitu triptote (منصرف munṣarif) dan diptote (منصرف غير ɣairu munṣarif). Triptote adalah kata yang vokal akhirnya dapat ditandai oleh ketiga vokal kasus di atas (ُ ٌ / َ ً /ِ ٍ ) baik dalam indefinit maupun definit.
Misal:    nom. وزيرٌ wazi:run (indefinit)               الوزيرُ al-wazi:ru (definit)
            Aku. وزيرًا wazi:ran                              الوزيرَ al-wazi:ra
            Gen. وزيرٍ wazi:rin                                الوزيرِ al-wazi:ri
                   ‘seorang menteri’                               ‘menteri (itu)’

Adapun diptote merupakan kata yang hanya mengalami dua macam perubahan vokal akhir ketika berbentuk indefinit, yaitu bervokal/ harakat ضمّة ḍamma (ُ u) pada kasus nominatif dan berharakat فتحة fatḥa (َ a) baik pada kasus akusatif maupun genitif. Walaupun indefinit, vokal akhir diptote tidak berbentuk tanwin. Contoh:
Nom.  وزراءُ wuzara:Ɂu  ‘para menteri’                  أسودُ Ɂaswadu  ‘hitam’
Aku.    وزراءَ wuzara:Ɂa                                         أسودَ Ɂaswada
Gen.   وزراءَ wuzara:Ɂa                                          أسودَ Ɂaswda

Namun, ketika kata diptote itu berbentuk definit, ia dapat mengalami tiga perubahan vokal akhir seperti halnya triptote. Contoh:
Nom. الوزراءُ al-wuzara:Ɂu ‘para menteri (itu)’          الأسودُ al-Ɂaswadu ‘hitam’
Aku.   الوزراءَ al-wuzara:Ɂa                                       الأسودَ al-Ɂaswada
Gen.   الوزراءِ al-wuzara:Ɂi                                        الأسودِ al-Ɂaswadi

Sekarang, mari kita lihat dua contoh kalimat berikut.

   خدمتِهم على الوزراءَ السارقُ شكر
         šakara                 s-sa:riqu        l-wuzara:Ɂa      ‘ala:     xidmatihim
berterimakasih-3msg   (itu)-pencuri    (itu)-menteri-pl     atas     pelayanan-mereka
‘pencuri itu berterimakasih kepada para menteri atas pelayanan mereka’

   السارقَ؟ يشاربون الذين بوزراءَ أمررتَ
Ɂa-mararta                         biwuzara:Ɂa      l-laði:na     yuša:ribu:na             s-sa:riqa
apakah-melewati-2msg  dengan-menteri-pl    yang-mpl   3mpl-minum dengan  (itu)-pencuri
‘apakah kamu melewati para menteri yang sedang minum bersama pencuri itu?’

Kata السارق as-sa:riq pada kalimat pertama berkasus nominatif dengan harakat akhir ضمّة ḍamma (ُ u) karena ia sebagai subyek kalimat. Sedangkan السارق as-sa:riq pada kalimat kedua dan  الوزراءَ al-wuzara:Ɂa pada kalimat pertama yang merupakan diptote definit, berkasus akusatif dengan harakat akhir فتحة fatḥa (َ a) karena mereka sebagai obyek dari verba.
Kata خدمة xidma pada kalimat pertama didahului oleh preposisi على ‘ala sehingga berkasus genitif dengan harakat akhir كسرة kasra (ِ i) sebelum sufiks pronomina (هم hum, dalam kalimat berbunyi him karena menyesuaikan dengan kata induknya).
Kata وزراءَ wuzara:Ɂa pada kalimat kedua juga berkasus genitif karena didahului oleh preposisi (بِ bi). Dengan demikian, kata itu seharusnya berharakat akhir كسرة kasra (ِ i). Namun karena ia merupakan kata diptote indefinit, maka harakat akhirnya adalah فتحة fatḥa (َ a).
Pada kedua kalimat di atas ada beberapa kata mabni, seperti  على ‘ala, بِ bi (preposisi), أ Ɂa (kata tanya), dan الذين l-laði:na (pronomina relatif).
Huaaa…hhh (nguap), udah dulu, ah. Kiranya demikian saja yang dapat saya sampaikan. Jika terdapat kesalahan dan kekurangan, jangan sungkan untuk memerbaiki serta memberi masukkan, ya. Kerom…!
شكرا
감사합니다
Assala:mu’alaikum…..!!    Annyeong……..!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar