Assala:mu’alaikum….!
야….! Yaaa….! Ketemu lagi….!
Mari kita lanjutkan pembahasan mengenai nomina terikat pada frase nominal dalam bahasa Ibrani. Pada bagian 3a dan 3b sebelumnya, kita sudah mengenal vokal-vokal dalam bIB beserta karakteristiknya. Kita juga sudah ngebahas unsur penting lain yang perlu diketahui untuk mengupas nomina bentuk terikat bIB, yaitu tekanan (stress) dan silabel.
Nah, pada bagian 4 inilah kita akan nganalisis atau ngebedah masalah kita, yaitu nomina bentuk terikat dengan dengan alat bedah yang sudah kita siapkan di bagian 3 dan sebelumnya.
Kalo gitu, langsung aja, deh..! 공부하자….!!!
ANALISIS DESKRIPTIF MORFOFONOLOGIS NOMINA TERIKAT
DALAM BEBERAPA AYAT GENESIS BERBAHASA IBRANI
4.1 Pengantar
Dalam bagian ini, kita akan membahas sistematika perubahan nb ke dalam bentuk nt dari beberapa ṣemîkhûth yang saya temukan dalam Genesis Perjanjian Lama dari Biblia Hebraica Stuttgartensia (1990). Tidak semua kata yang saya temukan akan dianalisis dalam tulisan ini. Saya mengambil data secara random untuk dianalisis dan meninggalkan sebagian kata lainnya yang memiliki kesamaan pola. Data yang saya analisis sebanyak 79 nomina. Dari data ṣemîkhûth dalam Genesis yang telah ditemukan tersebut, sebagian kata saya cari dan cocokkan bentuk nb-nya dengan kamus The New Bantam Megiddo Hebrew and English Dictionary dan kamus The Signet Hebrew/English English/Hebrew Dictionary.
Nb adalah nomina yang berdiri sendiri yang berdasarkan jenisnya dibagi menjadi maskulin dan feminin, sedangkan berdasarkan jumlahnya dibagi menjadi tunggal, dual, dan jamak.
Pada bagian sebelumnya, telah dijelaskan bahwa perubahan nt dalam ṣemîkhûth karena melemah atau pindahnya tekanan utama (primer) dari induk frase kepada nomina pewatas di depannya (yang mengikuti) yang mengakibatkan ikut melemah dan berubahnya vokal pada induk frase. Tekanan induk frase tersebut dapat hilang atau menjadi tekanan sekunder.
Sebuah kata umumnya bertekanan ultima dalam bIB. Hal itu juga berlaku dalam tataran FN genitif (ṣemîkhûth). Seperti yang dikatakan oleh Weingreen bahwa FN genitif yang terdiri atas nomina induk dan nomina pewatas diucapkan seolah sebagai satu kata. Oleh karena itu, tekanan utama nomina induk hilang atau pindah kepada nomina pewatas. Jadi, tekanan pada tataran FN sebanding dengan tekanan pada tataran sebuah kata, yaitu tekanan ultima.
Kata | Ṣemîkhûth (FN) | |||
Kata L K 0 1 dāvār | L K atau L K 0 2 1 2 1 devǎr ?εlōhîm devǎr ?εlōhîm |
Keterangan: 1 : tekanan primer (utama) K : Kuat
2 : tekanan sekunder L : Lemah
0 : tak bertekanan
Gambar 4: Tekanan dalam Tataran Kata dan FN (ṣemîkhûth).
Sistematika perubahan dan pindahnya tekanan dari nb ke bentuk nt dari semua pola nomina melalui cara yang sama seperti yang ditunjukkan oleh gambar 4.
Perubahan dari nb ke nt inilah yang akan saya deskripsikan dengan mengklasifikasikan nb ke bentuk nt berdasarkan kategori nd, yaitu sebagai berikut.
- Nb yang berasal dari nd dengan vokal pendek pada kedua silabelnya.
- Nb yang berasal dari nd dengan vokal pendek pada silabel pertama dan panjang pada silabel kedua.
- Nb yang berasal dari nd dengan vokal panjang pada silabel pertama dan pendek pada silabel kedua.
- Nb yang berasal dari nd dengan satu vokal pendek.
4.2 Nt Maskulin
Perubahan dari nb ke nt maskulin saya klasifikasikan menjadi empat kategori berdasarkan nd seperti yang dituliskan di atas. Perlu diketahui bahwa beberapa nb feminin tunggal dengan bentuk pola maskulin (yaitu tanpa sufiks feminin ָה /āh/) dan nomina feminin jamak dengan sufiks jamak maskulin ִים /îm/ mengalami perubahan ke bentuk nt mengikuti pola maskulin.
4.2.1 Dari Nd dengan Vokal Pendek pada Kedua Silabelnya
Bentuk nd ini dibagi menjadi beberapa pola, yaitu pola qǎṭǎl, qǎṭǐl, qǎṭǔl, dan qǐṭǎl. Sistematika perubahan vokal dalam bentuk nt tunggal pada semua pola ini melalui cara yang sama, yaitu vokal pada silabel kedua dari nb yang kehilangan tekanan utama kembali ke vokal pendek dari bentuk dasarnya. Adapun vokal dari silabel pertama melemah menjadi ְ /e/ šewa atau šewa majemuk jika silabel tersebut berkonsonan gutural.
4.2.1.1 Dari Nd Pola qǎṭǎl
Bentuk nb dari nd pola qǎṭǎl ini adalah qāṭāl dengan tekanan ultima. Perubahan nb ke bentuk nt tunggal dalam FN terjadi dengan bergeser atau pindahnya tekanan utama kata tersebut kepada kata di depannya (yang mengikuti). Dengan pindahnya tekanan utama ini, vokal panjang ָ /ā/ (qāmēç) pada silabel terakhir yang kehilangan tekanan kembali kepada vokal pendek silabel terakhir dari bentuk dasarnya, yaitu vokal ַ /ǎ/ (páthǎx). Adapun vokal pada silabel pertama yang jauh dari tekanan utama melemah menjadi ְ /e/ šewa atau šewa majemuk (umumnya ֲ /a/ xāṭēf-páthǎx) jika silabel tersebut berkonsonan gutural.
1 2
קַטַל (nd) > קָטָל (nb) → קְטַל (nt)
qǎṭǎl (nd) > qāṭāl (nb) → qeṭǎl (nt)
L K
1 2 1
Contoh: (87) /nāhār/ (nb) נָהָר → /nehǎr/ (nt) dalam /nehǎr perāth/ נְהַר פְּרָת
‘sungai’ ‘sungai Eufrat’ (Gn 15.18)
(88) /bāsār/ (nb. f) ‘daging’ בָּשָׂר → /besǎr/ בְּשַׂר (nt) dalam
/besǎr ’ǒrlǎthkhěm/ בְּשַׂר עָרְלַתְכֶם
daging (nt. f) kulit depan (f)-kalian (jmk.m)
‘kulit khatan kalian’ (Gn 17.11)
(89) /’āfār/ (nb) ‘abu, debu’ עָפָר → /’afǎr/ (nt) עֲפַר dalam
/’afǎr hā?ārěç/ עֲפַר הָאָרֶץ
debu(nt) (def.)-tanah
‘debu tanah’ (Gn 13.16)
(90) /zāhāv/ (nb) ‘emas’ זָהָב → /zehǎv/ (nt) זְהַב dalam
/û zahǎv hā?ārěç/ וּ זֲהַב הָאָרֶץ
dan emas(nt) (def.)-negeri; bumi
‘dan emas dari negeri itu’ (Gn 2.12)
(91) /sādhěh/ (nb) ‘ladang’ שָׂדֶה → /sedhēh ’ěfrôn/ שְׂדֵה עֶפְרוֹן
‘ladang Efron’ (Gn 23.17)
(92) /’ālěh/ (nb) ‘daun’ עָלֶה → /’alēh zǎyǐth/ עֲלֵה־זַיִת
‘daun zaitun’ (Gn 8.11)
Contoh (88), kata בָּשָׂר /bāsār/ merupakan sebuah nomina feminin tunggal dengan pola nb maskulin. Oleh karena itu, perubahan dalam bentuk nt mengikut pola dari bentuk maskulin. Contoh (89) adalah nomina yang berkonsonan gutural ע /’/ pada silabel pertama sehingga konsonan gutural tersebut menggunakan šewa majemuk ֲ /a/ xātēf-páthǎx ketimbang šewa biasa ְ /e/. Adapun pada contoh (90), vokal dari silabel pertama זָ /zā/ tidak melemah menjadi šewa biasa ְ /e/ melainkan menjadi זֲ /za/ yang menggunakan šewa majemuk ֲ /a/ karena konsonan pertama kata tersebut merupakan konsonan sibilan (desis) yang didahului oleh וּ /û/. Huruf וּ /û/ tersebut merupakan perubahan dari partikel וְ /we/ ‘dan’ (lihat 3.3.4).
Kata שָׂדֶה /sādhěh/ pada contoh (91) merupakan nb yang berakhiran ֶה /ěh/ dan berasal dari nd qǎṭǎl. Kata tersebut merupakan nb dengan konsonan ה /h/ atau konsonan lemah pada radikal ketiga (ל״ה). Kata שָׂדֶה /sādhěh/ sebenarnya berasal dari kata שָׂדַי /sādhǎy/ (nb). Vokal ַ /ǎ/ (páthǎx) pada silabel kedua yang berasal dari bentuk dasar tetap dipertahankan pada bentuk nb. Kemudian, vokal tersebut berkontraksi dengan י /y/ menjadi vokal pendek ֶ /ě/ (ṣeghôl) pada bentuk nb dan vokal panjang ֵ /ē/ (çērê) pada bentuk nt (lihat 3.8 dan 2.4 no: 7). Karena konsonan י /y/ tersebut melesap akibat kontraksi, maka sebagai ganti radikal ketiga yang lesap ditambahkanlah konsonan ה /h/. Pada bentuk nt, vokal silabel pertama mengalami perubahan menjadi ְ /e/ šewa sama seperti bentuk yang lain. Sementara itu, contoh (92) merupakan bentuk yang sama seperti contoh (91). Karena konsonan pada radikal pertama contoh (92) adalah konsonan gutural, maka vokal silabel pertama עָ /’ā/ berubah menjadi šewa majemuk ֲ /a/ xāṭēf-páthǎx ketimbang šewa biasa ְ /e/.
Bentuk nb jamak dari qāṭāl adalah qeṭālîm. Pada nt jamak, tekanan utama pindah dua silabel ke depan atau pada kata di depannya (yang mengikuti). Perubahan dilakukan dengan mengembalikan pola akar kata dari nd yang ditambah sufiks jamak bentuk bebas. Kemudian, vokal pendek ַ /ǎ/ (páthǎx) dari bentuk dasar dasar pada silabel pertama yang semakin jauh dari tekanan utama melemah menjadi vokal pendek ִ /ǐ/ (xîrěq) (lihat tabel 4) atau ַ /ǎ/ (páthǎx) pada sebagian konsonan gutural. Adapun vokal pendek ַ /ǎ/ (páthǎx) dari bentuk dasar pada silabel kedua melemah menjadi ְ /e/ šewa atau šewa majemuk pada gutural. Kemudian, sufiks jamak bentuk bebas ִַים /îm/ diganti dengan sufiks jamak bentuk terikat ֵי /ê/.
1 2
קַטַל (nd) > קְטָלִים (nb.jmk) → קַטַלִים* → קִטְלִים* → קִטְלֵי (nt.jmk)
1 2
qǎṭǎl (nd) > qeṭālîm (nb.jmk) → qǎṭǎlîm* → qǐṭlîm* → qǐṭlê (nt.jmk)
Contoh:
1 1 2 2
(93) /devārîm/ (nb.jmk) ‘kata, perkataan’ דְּבָרִים → /dǐvrê/ (nt.jmk) דִּברֵי dalam
L K
2 1
/dǐvrê rǐvqāh/ דִּבְרֵי רִבְקָה
perkataan(nt.jmk) Ribka
‘perkataan Ribka’ (Gn 24.30)
(94) /be’ālîm/ (nb.jmk) בְּעָלִים → /bǎ’alê vērîth ?ǎvrām/ בַּעֲלֵי בֵרִית אַבְרָם
‘pemilik; suami (jmk)’ pemilik (nt.jmk) perjanjian Abram
‘teman-teman sekutu Abram’ (Gn 14.13)
(95) /gemǎllîm/ (nb.jmk) גְּמַלִּים → /gemǎllê ?adhōnāw/ גְּמַלֵּי אֲדֹנָיו
‘unta (nb.jmk)’ unta (nt.jmk) tuan (jmk)-nya (m)
‘unta tuannya’ (Gn 24.10)
Pada contoh (94), kata בְּעָלִים /be’ālîm/ adalah nb jamak dari nb tunggal בָּעָל /bā’āl/. Vokal dari silabel pertama nt jamak tidak menjadi ִ /ǐ/ (xîrěq) melainkan menjadi vokal pendek ַ /ǎ/ (páthǎx) karena pengaruh dari konsonan gutural ע /’/ yang bersemivokal šewa majemuk ֲ /a/ xāṭēf-páthǎx pada radikal kedua (lihat 3.3 karakteristik gutural).
Nb tunggal dari contoh (95) adalah גָּמָל /gāmāl/. Nb jamak tersebut merupakan bentuk di luar dari pola perubahan. Bentuk nb jamak mengalami geminasi pada radikal ketiga (ל /l/). Hal itu dimaksudkan untuk mempertahankan vokal pendek ַ /ǎ/ (páthǎx). Geminasi tersebut membentuk stm (mǎl-l) yang selalu bervokal pendek (Gesenius. 1910: 271). Perubahan bentuk nt dari nb jamak yang berbeda ini hanya dengan mengganti sufiks jamak bentuk bebas dengan sufiks jamak bentuk terikat.
4.2.1.2 Dari Nd Pola qǎṭǐl
Bentuk nb dari pola dasar qǎṭǐl adalah qāṭēl. Sistematika perubahan nb ke bentuk nt tunggal memiliki cara yang sama dengan pola sebelumnya. Vokal pada silabel pertama melemah menjadi šewa atau šewa majemuk jika terdapat konsonan gutural. Sementara itu, vokal panjang ֵ /ē/ (çērê) pada silabel kedua tidak kembali ke vokal dari bentuk dasar (ǐ) melainkan melemah menjadi vokal pendek ǎ (lihat karakteristik vokal dan tabel 4).
1 2
קַטִל(nd) > קָטֵל (nb) → קְטַל (nt)
1 2
qǎṭǐl (nd) > qāṭēl (nb) → qeṭǎl (nt)
(96) /zāqēn/ (nb) זָקֵן → /zeqǎn/ (nt) dalam /zeqǎn bêthô/ זְקַן בֵּיתוֹ
‘orang tua; kakek’ orang tua(nt) rumah-nya(m)’
‘hambanya yang paling tua dalam rumahnya’ (Gn 24.2)
(97) /’āqēv/ (nb) עָקֵב → /’aqēv/ (nt) dalam /’aqēv ’ēsāw/ עֲקֵב עֵשָׂו
‘telapak kaki, tumit’ ‘tumit Esau’ (Gn 25.26)
Karena konsonan pertama pada contoh (97) merupakan konsonan guttural, maka vokal pada konsonan tersebut berupa šewa majemuk ֲ /a/. Adapun vokal pada silabel kedua tetap seperti vokal pada bentuk bebas.
Pola nb jamak dari qāṭēl adalah qeṭēlîm. Perubahan dari nb jamak ke nt jamak melalui cara yang sama dengan pola qǎṭǎl. Bentuk nb jamak kita kembalikan ke pola nd terlebih dahulu. Lalu, vokal pendek dari bentuk dasar silabel pertama yang semakin jauh dari tekanan melemah menjadi vokal pendek ִ /ǐ/ (xîrěq) atau ַ /ǎ/ (páthǎx) pada konsonan gutural. Kemudian, vokal pada silabel kedua melemah menjadi šewa atau šewa majemuk. Lalu, sufiks jamak bentuk bebas diganti dengan sufiks jamak bentuk terikat.
1 2
קַטִל (nd) > קְטֵלִים (nb.jmk) → קַטִלִים* → קִטְלִים* → קִטְלֵי (nt.jmk)
1 2
qǎṭǐl (nd) > qeṭēlîm (nb.jmk) → qǎṭǐlîm* → qǐṭlîm* → qǐṭlê (nt.jmk)
Contoh:
(98) /zeqēnîm/ (nb.jmk) ‘orang tua’ זְקֵנִים → /zǐqnê/ (nt.jmk) זִקְנֵי dalam
/zǐqnê vêthô/ זִקְנֵי בֵיתוֹ
orang tua (nt.jmk) rumah-nya (m)
‘para tua-tua dari istananya’ (Gn 50.7)
(99) /’aqēvîm/ (nb.jmk) עֲקֵבִים → /’ǐqvê ṣûṣ/ עִקְבֵי־סוּס
‘telapak kaki, tumit’ (jmk) tumit (nt.jmk) kuda
‘tumit kuda’ (Gn 49.17)
Wuaaaahhhh….. cape juga. Kiranya kita cukupkan sampai di sini dulu, ya. Kita lanjutkan di bagian 4 selanjutnya saja.
Jika terjadi kesalahan atau kekurangan, tolong dima’afkan. Jangan ragu untuk memperbaiki atau memberi masukan.
So…. Sampai jumpa pada bagian selanjutnya…….!
Assala:mu’alaikum…..!!!
BERSAMBUNG…….
다음 장을 읽으십시오
Tidak ada komentar:
Posting Komentar