Senin, 07 Februari 2011

Pemimpin Memimpin Pimpinan


여기부터 읽으세요
Assala:mu’alaikum….! Annyeonghaseyo……!!

Ki:f ha:lukum..?? Melalui edisi kali ini, saya mencoba sedikit berkomentar. Kalau begitu, langsung saja.
Di berita TV, surat kabar, radio, atau media lainnya, kita biasa melihat dan mendengar kata ‘pimpinan’ yang dirangkai dengan nama lembaga, organisasi, perusahaan, dan sebagainya seperti pada contoh kalimat-kalimat berikut:

       Pimpinan DPR menutup sidang yang membahas pembangunan gedung baru.

       Seorang pemulung menyuap pimpinan Partai Bemokarat di restoran mewah.

       Pengusaha dan pegawai itu melarikan diri saat dihampiri pimpinan KPK.

Jika kita lihat pada beberapa contoh kalimat di atas, kata ‘pimpinan’ yang telah dirangkai dalam bentuk frase itu berposisi sebagai pelaku dan objek. Ia juga terlihat sebagai kata yang bermakna ‘orang yang memimpin’. Padahal, KBBI mendefinisikan kata ‘pimpinan’ sebagai berikut:

pim·pin·an n hasil memimpin; bimbingan; tuntunan: berkat ~ nya, perusahaan itu mendapat kemajuan yg sangat pesat;

sedangkan ‘orang yang memimpin’ merupakan salah satu makna dari pemimpin, seperti yang didefinisikan KBBI berikut:

pe·mim·pin n 1 orang yg memimpin: ia ditunjuk menjadi ~ organisasi itu; 2 petunjuk; buku petunjuk (pedoman): buku ~ montir mobil; ~ produksi produser;

Dengan demikian, beberapa contoh kalimat di atas tidak tepat. Akan lebih baik jika kata’pimpinan’ itu diganti dengan pemimpin atau ketua. Jadi, kalimat-kalimat di atas adalah sebagai berikut:
      Ketua DPR menutup sidang yang membahas pembangunan gedung baru.
      Seorang pemulung menyuap pemimpin Partai Bemokarat di restoran mewah.
      Pengusaha dan pegawai itu melarikan diri saat dihampiri pemimpin KPK.

Adapun penggunaan kata ‘pimpinan’ yang benar adalah seperti yang ditunjukkan dalam contoh KBBI dan dalam beberapa kalimat berikut:
      Berkat pimpinanya, perusahaan itu mendapat kemajuan yang sangat pesat.
      Pasukan itu kalah dalam lomba joget akibat pimpinan Letkol Ngatimin.

      Mereka adalah pegawai di bawah pimpinan si penyamun tambun.

Nah, kira-kira demikian semua yang saya sampaikan. Jika terdapat kesalahan, mohon dima’afkan dan jangan sungkan untuk memerbaiki dan memberikan masukan.

شكرا
감사합니다

Assala:mu’alaikum…..!! Annyeong……..!

Sabtu, 29 Januari 2011

Nakirah dan Ma’rifah


Assala:mu’alaikum……!   Annyeonghaseyo…….!!

Lama tidak berjumpa. Kali ini, perjumpaan kita diiringi oleh kehadiran tamu kita, Al-‘arabiyya, yang lagi-lagi mampir untuk berbagi sedikit nakirah dan ma’rifah. Mau tau apa yang ia bagikan? Inilah dia….

Berdasarkan ketakrifannya, nomina dibagi menjadi dua, yaitu indefinit (نكرة nakira) dan definit (معرفة ma’rifa). Rekan-rakan tentu telah mengetahui bahwa indefinit adalah nomina (isim) yang tidak menunjuk kepada sesuatu yang telah ditentukan atau diketahui. Dalam bahasa Arab, indefinit ditandai dengan harakat tanwin (nunation) pada akhir kata.

Contoh: موزةٌ mauzatun ‘sebuah pisang’        مهندِسٌ muhandisun ‘seorang insinyur’
              قردٌ qirdun ‘seekor monyet’                سيّارةٌ sayya:ratun ‘sebuah mobil’

  مُظاهرةٍ في جاموسًا رجلٌ ركب   
 rakiba                      rajulun      ja:mu:san    fi:    mua:haratin
menunggangi-3msg    laki-laki       kerbau         di      demonstrasi
‘seorang laki-laki menunggangi seekor kerbau dalam sebuah unjuk rasa’

  مجلّةٌ الدرج في     fi     d-durji      majallatun
                            di    (itu)-laci      majalah
                     ‘ada sebuah majalah di dalam laci (itu)’

Pada dua contoh kalimat di atas, kata-kata yang bergaris bawah merupakan indefinit. Misalnya kata رجلٌ rajulun, ia tidak menunjukkan kepada orang tertentu yang sudah kita ketahui sebelumya. Apakah laki-laki itu seorang polisi, demonstran, tua, muda, atau berciri lainnya, hal itu tidak diketahui.

Sementara itu, definit adalah nomina yang menunjuk kepada sesuatu yang telah ditentukan atau diketahui. Nomina termasuk definit jika ia memiliki kategori berikut:

1. Nomina/ ajektiva adalah definit jika ia memiliki prefiks artikel definit (ال alif lam) yang ditambahkan kepadanya. Contoh:
  الجبل al-jabal ‘gunung’                        المدير al-mudi:r ‘direktur’ ;
  الهاتف al-ha:tif ‘telepon’                    اللاعب al-la:’ib ‘pemain; atlet’

2. Proper name (علم ‘alam) adalah definit. علم ‘alam adalah kata yang menunjukkan nama seseorang, tempat, atau suatu benda, seperti:
   محمد muammad ‘Muhammad’              جاكرتا ja:karta: ‘Jakarta’
   سعاد su’a:d ‘Su’ad’                                     لبنان lubna:n ‘Lebanon’

3. Pronomina/kata ganti orang (ضمير ami:r) adalah definit. Ada 14 pronomina dalam bahasa Arab yang mungkin sebagian besar rekan-rekan telah mengetahuinya, seperti هو huwa ‘dia’ (3msg), هي hiya ‘dia’ (3fsg), أنتَ Ɂanta ‘kamu’ (2msg), نحن nanu ‘kami’ (1pl), dan sebagainya.

4. Pronomina demonstratif (الإشارة اسم ismu l-Ɂiša:ra) adalah definit. Pronomina demonstratif adalah nomina yang digunakan untuk menunjuk sesuatu, seperti هذا ha:ða: ‘ini’ (msg), هذه ha:ðihi ‘ini’ (fsg), ذالك ða:lika ‘itu’ (msg), تلك tilka ‘itu’ (fsg), dan lain-lain.

5. Pronomina relatif (الموصول اسم ismu l-mauu:l) adalah definit. Pronomina relatif merupakan pronomina yang berfungsi menghubungkan kembali kepada kata yang mendahuluinya, seperti الّذى allaði: ‘yang’ (msg), الّتى allati: ‘yang’ (fsg), الّذين allaði:na ‘yang’ (mpl), dan sebagainya.

6. Nomina adalah definit jika ia memiliki sufiks pronominal yang ditambahkan kepadanya, atau saat ia menjadi nomina induk (مضاف muaf) dalam konstruksi اضافة ia:fa (frase). Nomina induk tidak memiliki artikel definit sehingga terlihat seperti indefinit. Nomina induk juga tidak bertanwin pada vokal akhirnya. Jika ia merupakan nomina berbentuk dual atau sound plural ( السالم جمع jam’ as-sa:lim) maka konsonan ن n  di akhir kata dihilangkan.

  رشوتهم الحكومةِ موظفو خبّأ  
xabbaɁa                       muwaẓẓafu:   l-luku:mati          rišwatahum
menyembunyikan-3msg  pegawai-pl    (itu)-pemerintah     sogokan-mereka(3mpl)
‘para pegawai pemerintah itu menyembunyikan uang sogokan mereka’

  أنفسهم خسروا الّذين أولٓئك
Ɂula:Ɂika   l-laði:na             xasiru:            Ɂanfusahum
itu-pl         mereka yang     merugi-3mpl      jiwa(pl)-mereka
‘mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri’ (Hud: 21)

  أقوم هى للّتى يهدى القرءان هذا إنّ
Ɂinna             ha:ða    l-lqurɁa:na           yahdi:                li l-lati:            hiya     Ɂaqwamu
sesungguhnya ini-msg  (itu)-Quran   3msg-membimbing   kepada-yang(fsg)  dia-fsg  terlurus
‘sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus’ (Al-Israa’: 9)

  لسانا منّى أفصح هو هٰرون وأخى 
wa       Ɂaxi:       ha:ru:nu   huwa       Ɂafau    minni:    lisa:nan
dan  saudara-ku   harun        dia-msg    terfasih     dari-ku    lidah
‘dan saudaraku Harun dia lebih fasih lidahnya daripadaku’ (Al-Qashash: 34)

Pada beberapa contoh kalimat di atas, kata-kata yang bergaris bawah merupakan definit. Misalnya kata أخى Ɂaxi: ‘saudaraku’, ia menunjukkan kepada orang tertentu yang sudah diketahui sebelumya oleh pembicara dan pendengar. Dengan demikian, saat kata itu disebutkan, pikiran si pendengar sudah tertuju langsung kepada orang yang dimaksud dan tidak tersamarkan/ terkaburkan oleh sesuatu/ orang yang belum jelas.

Nah, kiranya cukup demikian nakirah dan ma’rifat yang disampaikan oleh al-‘arabiyya. Jika terdapat kesalahan mohon dima’afkan dan jangan sungkan untuk memerbaiki dan memberi masukkan.

شكرا
감사합니다

Assala:mu’alaikum…..!!    Annyeong……..!

Sabtu, 18 Desember 2010

The Broken Plural


Assala:mu’alaikum……!   Annyeonghaseyo…….!!

Pada postingan sebelumnya (Number dalam Al-‘arabiyya), telah dijelaskan mengenai سالم جمع jam’ sa:lim (the sound plural). Kali ini, tamu kita Al-‘arabiyya akan sedikit menjelaskan kategori jamak dalam bentuk  تكسِير جمع jam’ taksi:r (the broken plural). Tidak seperti sound plural yang perubahannya teratur, perubahan dalam broken plural dilakukan secara morfologis pada akar kata, seperti perubahan vokal, pemanjangan vokal, perangkapan konsonan, maupun afiksasi.

Broken plural terdiri atas banyak sekali bentuk pola akar kata. Berikut ini merupakan sebagian pola akar kata broken plural:

a) فُعُلٌ Fu’uLun / CuCuC
Contoh: رَسُول rasu:l ‘rasul’ رُسُل rusul ‘para rasul’
                مَدِينَة madi:na ‘kota’ مُدُن mudun ‘kota-kota’

b) فُعُوْلٌ Fu’u:Lun / CuCu:C
Contoh:  دَرس dars ‘pelajaran’ دُرُوس duru:s ‘pelajaran-pelajaran’
               قَلب qalb ‘hati’ قُلُوب qulu:b ‘hati-hati’

c) فِعَالٌ Fi’a:Lun / CiCa:C
Contoh: كَلب kalb ‘anjing’ كِلَاب kila:b ‘anjing-anjing’
               رَجُل  rajul ‘laki-laki’   رِجَال rija:l ‘para laki-laki’

d) أَفْعُلٌ ɁaF’uLun / ɁaCCuC
Contoh: رِجل rijl ‘kaki’   أَرجُل Ɂarjul ‘kaki-kaki’

e) أَفْعَالٌ ɁaF’a:Lun / ɁaCCa:C
Contoh: وَقت waqt ‘waktu’ أَوقَات Ɂauqa:t ‘waktu-waktu’

f) مَفَاعِلٌ maFa:’iLun / maCa:CiC
Contoh: مَدرَسة madrasa ‘sekolah’ مَدَارِس mada:ris ‘sekolah-sekolah’
               مَسجِد masjid ‘masjid’ مَسَاجِد masa:jid ‘masjid-masjid’

g) فَوَاعِلُ Fawa:’iLu / Cawa:CiC (diptote)
Contoh: عامِل ‘a:mil ‘faktor/elemen’ عَوَامِلُ ‘awa:milu ‘faktor-faktor’

h) فُعَّالٌ Fu’’a:Lun / CuCCa:C
Contoh: عَامِل ‘a:mil ‘pekerja’ عُمَّال ‘umma:l ‘para pekerja / buruh’
              تَاجِر ta:jir ‘pedagang’ تُجَّار tujja:r ‘para pedagang’

i) أَفْعِلَاءُ ɁaF’iLa:Ɂu / ɁaCCiCa:Ɂu (diptote)
Contoh: نَبِىّ nabiyy ‘nabi’ أَنبِيَاءُ Ɂanbiya:Ɂu ‘para nabi’

j) فُعَلَاءُ Fu’aLa:Ɂu / CuCaCa:Ɂ (diptote)
Contoh: وَزِير wazi:r ‘menteri’ وُزَرَاءُ wuzara:Ɂu ‘para menteri’

k) فُعْلَانٌ Fu’La:nun / CuCCa:n
Contoh: قَضِيب qai:b ‘tongkat/cabang’ قُضبَان quba:n ‘tongkat-tongkat’

l) فَعَالِلُ Fa’a:LiLu / CaCa:CiC (diptote)
Contoh: كَوكَب kaukab ‘bintang’ كَوَاكِبُ kawa:kibu ‘bintang-bintang’

m) فَعَالِيْلُ Fa’a:Li:Lu / CaCa:Ci:C (diptote)
Contoh: فِنجَان finja:n ‘cangkir’ فَنَاجِينُ fana:ji:nu ‘cangkir-cangkir’
              تَرنِيمَة tarni:ma ‘lagu pujian; hymne’  تَرَانِيمُ tara:ni:m ‘lagu-lagu’

n) فَعَالِلَةٌ Fa’a:LiLatun / CaCa:CiCa
Contoh: صَيدَلىّ aidaliyy ‘apoteker/kimiawan’ صَيَادِلة aya:dila ‘para apoteker’

Sebuah kata dapat memiliki bentuk jamak melalui broken plural dan sound plural sekaligus atau memiliki lebih dari satu bentuk broken plural. Penggunaan kedua bentuk jamak dari kata yang sama itu umumnya memiliki perbedaan makna.

Misalnya, kata عَاملُون ‘a:milu:na dan عُمَّال ‘umma:l adalah bentuk jamak dari عَامِل ‘a:mil  ’pekerja; faktor’. Kata عَاملُون ‘a:milu:n (bentuk sound plural) lebih bermakna kepada keadaan yang sedang dialami/dilakukan seseorang, dalam contoh ini berarti ‘orang-orang yang sedang bekerja (apapun pekerjaannya). Adapun عُمَّال ‘umma:l bermakna kegiatan yang bersifat permanen atau mengarah kepada profesi yang dilakukan seseorang, dalam contoh ini berarti ‘para buruh’. Sementara itu, عَوَامِلُ ‘awa:milu juga bentuk jamak dari عَامِل ‘a:mil untuk makna kata selain orang, dalam contoh ini berarti ‘faktor-faktor’.

Contoh lainnya adalah pada kata صَاحِب a:ib ‘sahabat’ yang memiliki lebih dari dua bentuk jamak broken plural, dua di antaranya adalah أصحَاب Ɂaṣḥa:b dan صَحب ab. Kata أصحَاب Ɂaṣḥa:b bermakna jumlah para sahabat ada banyak namun masih dapat dihitung, sedangkan pada kata صَحب ab jumlahnya lebih banyak lagi.

Banyak kata memiliki bentuk jamak broken plural dengan pola yang mudah diingat seperti di atas. Namun, ada juga kata-kata yang pola jamak broken plural-nya cukup berbeda atau di luar perkiraan karena sumber masalahnya terletak di akar kata dan bentuk tunggalnya (biasanya terdapat pada kata biliteral atau kata primitif).

Contoh: أخ Ɂax ‘saudara laki-laki’ إخوَان Ɂixwa:n / إخوَة Ɂixwa ‘para saudara laki-laki’
             أُخت Ɂuxt ‘saudara perempuan’ أخَوَات Ɂaxawa:t ‘para saudara perempuan’
             أَب Ɂab ‘bapak’ آبَاء Ɂa:ba:Ɂ ‘para bapak; leluhur’
             أمّ Ɂumm ‘ibu’ أمَّهات Ɂummaha:t / أمَّات Ɂumma:t ‘para ibu’
             يَد yad ‘tangan’ أيدٍ Ɂaidin / أَيَادٍ Ɂaya:din ‘tangan-tangan’

Pada contoh di atas, kata bilateral tersebut mendapat huruf tambahan dalam bentuk jamak berupa semi vokal, seperti و w dan أ / ء Ɂ.

Jumlah pola jamak broken plural memang ada banyak. Tidak seperti sound plural, kita harus menghafal setiap pola jamak. Namun, kita tidak perlu khawatir dengan hal itu karena jika sudah terbiasa dengan pola akar kata yang berirama atau bernada, kita dapat mengetahui bentuk jamak sebuah kata dengan sendirinya. Dan, jika belum hafal juga, kamus bahasa Arab yang lengkap seperti kamus ‘Hans Wehr’ selalu memberikan keterangan pada kosa kata yang harus dijamakkan dengan broken plural.

Demikian sekilas broken plural dari Al-‘arabiyya. Sebenarnya, masih banyak pola jamak broken plural dan uraian mengenainya. Namun, kita sudahi dahulu sampai di sini. Mohon ma’af jika terdapat kesalahan. Jangan sungkan untuk memerbaiki dan memberi masukan.

شكرا
감사합니다
Assala:mu’alaikum…..!!    Annyeong……..!