Selasa, 19 April 2011

Jumlah Ismiyyah (Nominal Sentences)


Assala:mu’alaikum……!  Annyeonghaseyo…..!!
Sebagian besar rekan-rekan mungkin telah mengetahui bahwa جملة jumlah/tun dalam bahasa Arab berarti “kalimat” dalam bahasa Indonesia. Sementara, كلمة kalimah/tun berarti “kata” dalam bahasa Indonesia. Mengapa terjemahannya terlihat tidak sesuai antara كلمة kalimah dan “kalimat”? Saya tidak akan bahas itu. Hehehe….
Yang ingin saya sampaikan kali ini adalah mengenai jumlah (kalimat) dalam Al-‘Arabiyyah. Jumlah dalam bahasa Arab terbagi dalam dua macam, yaitu اسمية جملة jumla ismiyya (kalimat nominal) dan فعلية جملة jumla fi’liyya (kalimat verbal). اسمية جملة jumla ismiyya dikenal sebagai kalimat yang dimulai dengan اسم ism (nomina) atau subyeknya berada pada permulaan kalimat. Adapun فعلية جملة jumla fi’liyya merupakan kalimat yang dimulai dengan فعل fi’l (verba).
Nah, yang ingin saya bahas di sini adalah mengenai اسمية جملة jumla ismiyya. Seperti namanya, jumlah ismiyyah biasa diawali dengan isim. Konstruksi kalimat ini memiliki dua bagian yang disebut مبتدأ mubtadaɁ dan خبر /المبتدأ خبر xabar/xabar al-mubtadaɁ.
MubtadaɁ, yang berarti ‘permulaan’, merupakan subyek kalimat yang berbentuk definit (معرفة ma’rifa). Karena selaku subyek kalimat, ia selalu berada dalam kasus nominatif (مرفوع marfu:’), yaitu berharakat ضمّة ḍamma (ُ u) pada akhir kata.
Contoh: مفلسٌ الناشرُ  an-na:širu       muflisun
                                     (itu)penerbit    bangkrut
                                      ‘penerbit itu bangkrut’
              التلفاز في مشهورٌ الشرطىُّ  aš-šuriyyu  mašhu:run  fi:   t-tilfa:z
                                                          (itu)polisi       terkenal    di   (itu)televisi
                                                                 ‘polisi itu terkenal di televisi’
Kata الناشرُ an-na:širu dan الشرطىُّ aš-šuriyyu pada kalimat nominal di atas merupakan مبتدأ mubtadaɁ atau subyek kalimat.
Adapun xabar, yang berarti ‘berita’ atau ‘informasi’, merupakan predikat kalimat yang berfungsi untuk menandai atau memberitahukan mengenai subyek, juga untuk membuat kalimat menjadi sempurna (مفيدة جملة jumla mufi”da). Xabar terdiri atas tiga jenis.
Pertama, xabar yang berbentuk kata tunggal (مفرد اسم ism mufrad). Xabar ini berbentuk indefinit (نكرة nakira) dan berkasus nominatif (berharakat ضمّة ḍamma) seperti mubtadaɁ. Ia juga mengikuti aturan kesesuaian terhadap mubtadaɁ yang diberitakannya. Maksudnya, jika mubtadaɁ berupa kata dari golongan makhluk berakal, maka xabar harus menyesuaikan bentuk yang sama seperti mubtadaɁ dalam jenis (feminin/maskulin) dan jumlah (tunggal, dual, dan jamak).
Contoh: الإختبار في ناجحةٌ التلميذةُ at-tilmi:ðatu    na:jiatun  fi:   l-Ɂixtiba:ri
                                                        (itu)murid (pr)     lulus         di    (itu)ujian
                                                       ‘murid perempuan itu lulus dalam ujian’
              الإختبار في ناجحان التلميذان at-tilmi:ða:ni           na:jia:ni       fi:   l-Ɂixtiba:ri
                                                            (itu)murid(lk)-dual   lulus-(dual)  di   (itu)ujian
                                                            ‘kedua murid laki-laki itu lulus dalam ujian’
              الإختبار في ناجحون التلاميذُ at-tala:mi:ðu  na:jiu:na   fi:    l-Ɂixtiba:ri
                                                             (itu)murid-pl    lulus-pl      di     (itu)ujian
                                                             ‘para murid laki-laki itu lulus dalam ujian’
Pada contoh di atas, التلميذةُ at-tilmi:ðatu merupakan mubtadaɁ yang berupa nomina feminin (مُؤنّث mu?annaθ) tunggal, maka xabar kalimat itu juga berupa kata berjenis feminin tunggal ناجحةٌ  na:jiatun.
MubtadaɁ pada kalimat kedua, yaitu التلميذان at-tilmi:ða:ni, merupakan nomina maskulin (مُذكّر muðakkar) berbentuk dual. Oleh karena itu, xabar-nya juga berupa kata berbentuk dual maskulin ناجحان  na:jia:ni. Hal serupa juga terjadi pada kalimat ketiga yang mubtadaɁ dan xabar-nya berupa kata jamak.
Namun, jika mubtadaɁ berupa makhluk tak berakal atau kata benda abstrak berbentuk jamak, maka xabar cukup dalam bentuk kata feminin tunggal.
Contoh:  صعبةٌ الإمتحاناتُ al-Ɂimtia:na:tu  a’batun
                                              (itu)ujian-fpl          sulit-f
                                                  ‘ujian-ujian itu sulit’
Pada contoh di atas, الإمتحاناتُ al-Ɂimtia:na:tu adalah mubtadaɁ yang berupa nomina feminin jamak dari kata abstrak atau tak berakal. Dengan demikian, xabar-nya cukup dalam bentuk kata feminin tunggal صعبةٌ a’batun.
Kedua, Xabar yang berupa jumlah (kalimat) baik ismiyyah maupun fi’liyyah. Xabar yang berupa jumlah harus mengandung penanda pronomina (ضمير ami:r) yang sesuai dengan mubtadaɁ-nya. Pada xabar yang berbentuk jumlah ismiyyah, penanda  ضمير ami:r berupa sufiks pronomina (متصل ضمير ami:r muttail).
Contoh: كثيرةٌ سيّارتُها المدبّرةُ al-mudabbiratu  sayya:ratuha:  kaθi:ratun
                                                  (itu)manajer(pr)   mobil-nya(f)     banyak
                                              ‘manajer perempuan itu mobilnya ada banyak’
               الملعبِ داخل يضاربان المدرّبان al-mudarriba:ni yua:riba:ni da:xila l-mal’abi
                                                         (itu)pelatih-dual 3mdual-berkelahi di dalam (itu)lapangan
                                                                ‘kedua pelatih itu berkelahi di dalam lapangan’
MubtadaɁ pada kalimat pertama adalah المدبّرةُ al-mudabbiratu yang berjenis feminin tunggal, sedangkan xabar-nya adalah كثيرةٌ سيّارتُها sayya:ratuha:  kaθi:ratun yang berupa jumlah ismiyyah. Pada xabar itu dicantumkan sufiks pronomina orang ketiga  tunggal feminin هَا ha: “nya” (di kata سيارة sayya:ra) yang mengacu kepada المدبّرةُ al-mudabbiratu selaku mubtadaɁ.
Adapun mubtadaɁ pada kalimat kedua adalah المدرّبان al-mudarriba:ni yang berupa nomina berjenis maskulin dual, sedangkan xabar-nya adalah يضاربان yua:riba:ni. Xabar yang berupa fi’l (verba) itu harus sesuai dengan mubtadaɁ-nya, sehingga bentuknya adalah verba orang ketiga dual maskulin.
Ketiga, xabar berupa atau mengandung preposisi dan kata yang didahuluinya (ومجرور جار ja:r wamajru:r), atau kata keterangan tempat (مكان ظرف arf maka:n) dan kata keterangan waktu (زمان ظرف arf zama:n).
Contoh: السرير على زينبُ   zainabu   ‘ala:    s-sari:ri
                                               Zainab      atas    (itu)ranjang
                                               ‘Zainab ada di atas ranjang’

               السجن أمام الرئيس زوجةُ   zaujatu  r-raɁi:si          Ɂama:ma    s-sijni
                                                        Isteri       (itu)presiden  di depan    (itu)penjara
                                                         ‘isteri presiden itu ada di depan penjara’
              السبت يوم قبل الجمعة يومُ   yaumu l-jum’ati qabla yaumi s-sabti
                                                         hari (itu)jum’at sebelum hari (itu)sabtu
                                                       ‘hari Jum’at ada pada sebelum hari Sabtu’
MubtadaɁ pada kalimat pertama adalah زينبُ zainabu, sedangkan xabar-nya adalah السرير على ‘ala: s-sari:ri yang terdiri atas preposisi على ‘ala: dan diikuti kata السرير as-sari:r yang dalam keadaan مجرور majru:r.
Adapun mubtadaɁ kalimat kedua dan ketiga adalah الرئيس زوجةُ zaujatu  r-raɁi:si dan الجمعة يومُ yaumu l-jum’ati . Xabar kedua kalimat itu adalah أمام Ɂama:ma yang berupa kata keterangan tempat dan قبل  qabla yang berupa kata keterangan waktu.
Sebelumnya, telah disebutkan bahwa mubtadaɁ selalu berbentuk definit dalam jumlah ismiyyah. Namun, ada juga mubtadaɁ yang berbentuk indefinit ( نكرة nakira). Jika mubtadaɁ dalam kalimat itu berbentuk indefinit, maka ia tidak diletakkan di awal kalimat. Sebagai gantinya, xabar-lah yang mendahului mubtadaɁ-nya, sehingga hal itu disebut sebagai مقدّم خبر xabar muqaddam/ المبتدأ على الخبر تقدّم taqaddumu l-xabari ‘ala: l-mubtadaɁ, yaitu xabar yang mendahului mubtadaɁ.
Contoh: وردةٌ البستانِ في   fi:   l-busta:ni     wardatun
                                            di    (itu)kebun     mawar
                   ‘di kebun itu, ada setangkai mawar/ ada setangkai mawar di kebun itu’
Pada kalimat di atas, mubtadaɁ وردةٌ  wardatun yang berbentuk indefinit diletakkan setelah xabar البستانِ في fi:   l-busta:ni.
Kiranya sekian saja apa yang bisa saya sampaikan. Jika terdapat kesalahan, mohon dima’afkan dan jangan sungkan untuk memerbaiki dan memberi masukkan.
شكرا
감사합니다
Assala:mu’alaikum…..!!    Annyeong……..!

Minggu, 03 April 2011

Nomina Bentuk Terikat dalam Bahasa Ibrani (bagian IVe)


Assala:mu’alaikum….!

Wuaah…! Sampai juga kita pada bagian akhir dari penjelajahan nomina bentuk terikat Bahasa Ibrani ini. Mungkin, perjalanan panjang dari seluruh bagian 4 ini cukup monoton dan membingungkan bagi yang tidak mengerti. Tapi…., ya, begitulah. Kalau begitu, langsung saja kita jelajahi bagian 4 yang terakhir ini….

공부하자….!!!

            4.3.4  Dari Nd dengan Satu Vokal Pendek
            Nb feminin dari pola-pola ini dibentuk dengan menambahkan sufiks feminin pada nd maskulin (dari subbab 4.2.4). Nb tersebut di antaranya adalah: qǎṭlāh (qǎṭl + āh); qǐṭlāh (qǐṭl + āh) atau menjadi qěṭlāh jika radikal pertama berupa konsonan gutural; qǒṭlāh (qǒṭl atau qǔṭl + āh). Adapun nb feminin  dengan konsonan ו /w/ (wāw) atau י /y/ (yôdh) adalah qôlāh dan qêlāh.
            Perubahan pada nt dilakukan hanya dengan mengganti sufiks feminin bentuk bebas dengan bentuk terikat. Pola nt dari pola nb qǎṭlāh mempunyai dua bentuk, yaitu qǎṭlǎth dan qǐṭlǎth. Oleh karena itu, sukar untuk membedakan dengan nt yang berasal dari nb pola qǐṭlāh.
(154) /šǐfxāh/ (nb)    שִׁפחָה      →        /šǐfxǎth                           sārǎy/              שִׁפְחַת  שָׂרַי  
        ‘budak perempuan’           budak perempuan(nt)       Sara
                                                     ‘hamba Sara’ (Gn 16.8)
(155) /xělqāh/ (nb)   חֶלְקָה    →   /xělqǎth             hǎssādhěh/                           חֶלְקַת  הַשָּׂדֶה  
         ‘bagian; nasib’           sebagian(nt)    (def.)-ladang
                                               ‘sebidang tanah’ (Gn 33.19)
(156) /ṭôvāh/ (nb)    טוֹבָה      →       /ṭôvǎth                mǎr?ěh/                          טוֹבַת  מַרְאֶה  
         ‘kebaikan’                      kebaikan(nt)     penglihatan; pandangan
                                                      ‘fair to look upon’ (Gn 26.7)
                                                      ‘elok parasnya’ (Gn 26.7)
(157) /sêvāh/ (nb)  שֵׂיבָה  →  /sêvǎth        ’ǎvdekhā                ?āvînû/     אָבִינוּ  עַבְדְּךָ שֵׂיבַת  
        ‘umur tua; uban’      uban(nt)    hamba-mu(m)     bapak-kami
                                   ‘the gray hairs of thy servent our father’ (Gn 44.31)
                                     ‘hambamu ayah kami yang ubanan itu’ (Gn 44.31)
            Kata חֶלְקָה /xělqāh/ pada contoh (155) berasal dari nd berpola qǐṭl dengan konsonan gutural pada radikal pertama. Oleh karena itu, nomina tersebut berpola qěṭlāh dengan ֶ /ě/ (eghôl) pada silabel pertama seperti yang telah dituliskan sebelumnya.

 (158) /be?ērōth/ (nb/nt.jmk)   בְּאֵרֹת    →    /be?ērōth         hǎmmǎyǐm/        בְּאֵרֹת  הַמַּיִם  
         ‘sumur’                                   sumur(nt.jmk)    (def.)-air
                                                      ‘the wells of water’ (Gn 26.18)
                                                          ‘sumur-sumur’ (Gn 26.18)
            Contoh (158) adalah bentuk jamak dari nb feminin tunggal בְּאֵר /be?ēr/.  Nomina tersebut sudah dijelaskan sebelumnya. Perubahan bentuk nb maupun nt jamak nomina tersebut dilakukan hanya dengan menambahkan sufiks jamak feminin ֹת /ōth/.

4.3.5 Nomina Feminin dengan Konsonan ה  /h/ atau ת /t/ pada Radikal Ketiga
Berikut ini adalah nomina-nomina feminin dengan konsonan ה  /h/ (Hē) atau ת /t/ (Tāw) pada radikal ketiga yang saya ambil secara random dari Genesis.
Contoh:
(159) /sāfāh/ (nb)     שָׂפָה         →        /sefǎth          hǎy?ōr/                             שְׂפַת  הַיְאֹר  
        ‘bibir; tepi’                         ‘tepi (nt)      (def.)-sungai Nil’ (Gn 41.3)
(160) /xǎyyāh/ (nb)    חַיָּה        →      /xǎyyǎth              hǎssādhěh/                     חַיַּת  הַשָּׂדֶה  
         ‘hewan; kehidupan’          binatang (nt)    (def.)-ladang
                                                  ‘binatang di darat’ (Gn 3.1)
(161) /çārāh/ (nb)          צָרָה        →      /çārǎth                nǎfšô/                         צָרַת  נַפְשׁוֹ  
        ‘kemalangan; masalah’          kemalangan     diri-nya(m)
                                                 ‘the anguish of his soul’ (Gn 42.21)
                                                     ‘sesak hatinya’ (Gn 42.21)
(162) /tēvāh/ (nb)    תֵּבָה      →       /tēvǎth         ’açê     ghōfěr/                  תֵּבַת  עֲצֵי־גֹפֶר   
        ‘bahtera’                            bahtera (nt)     kayu   gofir
                                              ‘bahtera dari kayu gofir’ (Gn 6.14)
(163) /xēměth/ (nb)    חֵמֶת        →          /xēmǎth              mǎyǐm/                      חֵמַת  םַיִם  
         ‘botol kulit’                           botol kulit (nt)       air
                                                      ‘sekirbat air’ (Gn 21.14)
            Perubahan bentuk nt dari nomina-nomina tersebut umumnya dilakukan hanya dengan mengganti akhiran ָהh/ atau ֶת /ěth/ dengan sufiks feminin bentuk terikat tunggal.
            Pada contoh (159), שָׂפָה /sāfāh/ mengalami pelemahan vokal ָ /ā/ pada silabel pertama שָׂ /sā/ menjadi šewa.

            4.3.6 Nt Feminin dengan Akhiran Berpola ֶ ֶ ת
            Nomina feminin dengan akhiran berpola ֶֶת  dan ֶת mempunyai bentuk nb dan nt yang sama. Akan tetapi, terdapat beberapa nomina feminin yang hanya berakhiran dengan pola ֶֶת pada bentuk nt yang sementara bentuk nb-nya bersufiks feminin bentuk bebas ָהh/. Berikut ini nomina yang saya temukan dalam Genesis.
(164) /?ǎdděrěth/ (nb/nt)   אַדֶּרֶת      →        /?ǎdděrěth     sē’ār/                        אַדֶּרֶת  שֵׂעָר  
         ‘jubah’                                       jubah(nt)     rambut
                                                          ‘jubah berbulu’ (Gn 25.25)
 (165) /mǎççēvāh/ (nb)   מַצֵּבָה   →     /mǎççěvěth          ?āvěn/                          מַצֶּבֶת  אָבֶן  
          ‘monumen; nisan’             monumen (nt)     batu
                                                  ‘tugu batu’ (Gn 35.14)
            Contoh (165) adalah nomina feminin dengan bentuk nb yang bersufiks feminin ָהh/. Namun, ia mempunyai bentuk nt dengan akhiran berpola ֶֶת sama seperti contoh (164).

Nah, sekianlah apa yang dapat saya sampaikan. Mohon ma’af kalau monoton dan ada salah-salah kata. Jangan sungkan untuk mengoreksi dan memberi masukan, ya!!
Assala:mu’alaikum…..!!!

다음 장을 읽으십시오

Jumat, 25 Maret 2011

Al-Qur'an Hanya Satu Bahasa


Assala:mu’alaikum…!   Annyeonghaseyo…!!

Wuah…, sudah lama saya tidak mengisi blog ini. Kemarin-marin, saya tidak ada mood untuk ngisi, tapi sekarang, mudah-mudahan semangat lagi…!!! Fightiiing….!!! Siii…ja!

Kali ini pun, saya agak bingung mau ngisi apa. Mungkin, saya sampaikan yang berikut saja.

Beberapa waktu lalu, saya melihat iklan belanja di televisi tentang penjualan Al-Qur’an. Dalam tayangan iklan itu, ada presenter yang menawarkan dan menjelaskan mengenai produk yang mereka jual. Dikatakan bahwa Al-Qur’an yang dijual terdiri atas tiga bahasa, yaitu Arab, Latin, dan Indonesia. Kalau dilihat berdasarkan produk yang mereka (penjual) promosikan, kata-kata yang disampaikan presenter dan narrator iklan berupa “Al-Qur’an dalam tiga bahasa: Arab, Latin, dan Indonesia” tidaklah tepat menurut saya.

Pada kenyataannya, produk yang mereka jual itu bukanlah Al-Qur’an dalam tiga bahasa, yaitu Bahasa Arab, bahasa Latin, dan Bahasa Indonesia, melainkan Al-Qur’an yang dilengkapi dengan transliterasi dalam huruf Latin dan terjemahan berbahasa Indonesia. Ya, dalam Al-Qur’an itu, yang ada adalah transliterasi dalam huruf Latin dan bukannya bahasa Latin.

Transliterasi itu, khan, adalah pengalihaksaraan atau penggantian huruf demi huruf dari abjad yang satu ke abjad yang lain. Jadi, Al-Qur’an itu ditulis dengan huruf Arab dan dilengkapi juga penulisannya yang dalam bentuk huruf Latin. Meskipun transliterasinya berupa huruf Latin, bahasanya tetap Bahasa Arab dan bukan bahasa Latin yang merupakan suatu rumpun yang terdiri atas Bahasa Italia, Bahasa Spanyol, Bahasa Perancis, dan Bahasa Portugal.

Misalnya, kalimat  مُبِيْنٍ عَرَبِىٍّ بِلِساَنٍ ditransliterasikan dalam huruf latin menjadi bi lisa:nin ‘arabiyyin mubi:nin. Jadi, kalimat “bi lisa:nin ‘arabiyyin mubi:nin” merupakan kalimat berbahasa Arab yang ditulis dengan menggunakan huruf Latin dan bukannya bahasa Latin.

Sementara itu, Al-Qur’an juga bukannya dalam Bahasa Indonesia, tetapi terjemahannyalah yang berbahasa Indonesia. Karena, Al-Qur’an hanya ada dalam satu bahasa, yaitu Bahasa Arab. Tidak ada Al-Qur’an dalam bahasa-bahasa lain selain Bahasa Arab. Adapun terjemahan Al-Qur’an bisa dalam berbagai bahasa, seperti terjemahan berbahasa Indonesia, terjemahan berbahasa Inggris, terjemahan berbahasa Persia, dan lain sebagainya.

Demikianlah Kami wahyukan kepamu Al-Qur’an dalam bahasa Arab.…” (Al-Syuura: 7)

Dengan bahasa Arab yang jelas.” (Al-Syu’ara’: 195)

Sesungguhnya, Kami menurunkan Al-Qur’an yang berbahasa Arab agar kamu memahaminya.” (Yusuf: 2)

Sesungguhnya Kami menjadikan Al-Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya).” (Al-Zukhruf: 3)

….Dan ini (Al-Qur’an) adalah kitab yang membenarkannya dalam bahasa Arab….” (Al-Ahqaaf: 12)

Pada teks terjemahan, bisa terdapat perbedaan karena bahasa di dunia sangat beragam dan  ditambah lagi faktor sosial-budaya serta keadaan geografis yang berbeda antarbangsa. Bahkan, terjemahan dalam satu bahasa yang sama bisa terdapat sedikit perbedaan pada penyampaian kata-katanya karena dilakukan oleh beberapa orang yang saling beda latar belakang. Namun, karena penerjemahan merupakan kegiatan menyampaikan pesan dari suatu bahasa ke bahasa lainya, maka setiap penerjemah berusaha semaksimal mungkin untuk membuat terjemahannya memiliki kesepadanan, maksud, dan tujuan yang sama seperti yang diinginkan dan dicapai penulis pada bahasa sumber.

Oleh karena Al-Qur’an adalah firman di mana Allah yang menjadi “penulis” aslinya, manusia tidak dapat secara sempurna menerjemahkan Al-Qur’an dengan tepat dari Bahasa Arab sesuai dengan yang Allah maksudkan. Tidak hanya terjemahan, tafsir Al-Qur’an pun terdiri atas berbagai versi menurut para penulisnya. Karena, pemikiran, pemahaman, dan daya tangkap tiap orang dapat berbeda-beda. Misalnya, jika disebutkan sebuah kata “pisang”. Antara orang yang satu dengan yang lainnya akan membayangkan pisang yang berbeda-beda. Ada orang yang membayangkan pisang raja, pisang ambon, pisang satu sisir, pisang yang telah dikupas, dan lain-lain. Walaupun berbeda-beda, toh, yang mereka bayangkan tetap sama, yaitu pisang. Oleh karena itu, hanya Allah saja yang Maha Mengetahui kebenaran hakiki. Dan, manusia tidak dapat menjangkau “dunia” serta “visi” Al-Qur’an tanpa kehendak Allah SWT.

Meskipun diturunkan dalam Bahasa Arab, bukan berarti Al-Qur’an khusus untuk orang-orang Arab saja. Akan tetapi Al-Qur’an merupakan kitab suci untuk seluruh umat manusia. Karena kitab ini diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. sebagai nabi dan rasul terakhir, maka tidak ada lagi kitab suci yang diturunkan setelah Al-Qur’an, sehingga ia juga bersifat universal.

Kembali kepada kata-kata pada iklan di atas, juga pada iklan lainnya yang pernah saya lihat di sepanduk atau pun brosur. Menurut saya, kata-kata iklan berupa Al-Qur’an tiga bahasa itu, mungkin lebih baik jika diubah menjadi “Al-Qur’an yang dilengkapi dengan transliterasi dalam huruf Latin dan terjemahan berbahasa Indonesia.”.

Jadi, kiranya demikian pendapat dari saya. Jika terdapat kesalahan pada apa yang telah disampaikan di atas, semua itu karena kekhilafan saya sebagai manusia yang tak luput dari salah dan kekeliruan. Jangan sungkan untuk memerbaiki dan memberi masukan, ya. Thayyib…!

شكرا
감사합니다
Assala:mu’alaikum…..!!    Annyeong……..!