Assala:mu’alaikum…!
Hari ini saya mau mengadakan pertemuan dengan إضافة Ɂiḍa:fa. Rekan-rekan boleh ikutan, kok. Ini dia si idhafah sudah datang dari bahasa Arab. Mari kita simak mengenai dirinya.
Idhafah bisa dianggap seperti konstruksi frase nominal dalam bahasa Indonesia. Idhafah terdiri atas dua bagian, yaitu مضاف muḍa:f dan إليه مضاف muḍa:f Ɂilaih. Mudhaf merupakan induk frase yang menjadi معرفة ma'rifa (definit) setelah ia disandarkan kepada mudhaf ilaih. Adapun mudhaf ilaih merupakan kata pewatas karena ia membatasi makna induk frase. Keterikatan di antara keduanya menggambarkan hubungan posesif.
Dalam konstruksi idhafah, mudhaf ilaih adalah kata ma’rifah (definit) dan مجرور majru:r (berada dalam kasus genitif, yaitu berharakat akhir كسرة kasra (ِ i /ٍ in )). Adapun mudhaf—sebagai kata yang ma’rifah karena hubungan keterikatannya dengan mudhaf ilaih—tidak berartikel tanda ma’rifah (اﻟ al-) maupun bertanwin (ً an, ٍ in, dan ٌ un). Mari kita lihat contoh berikut:
البيتِ بابَ فتح fataḥa ba:ba l-bayti
membuka-3msg pintu (itu)-rumah
“dia membuka pintu rumah”
الإسعافِ بسيّارةِ مررتُ marartu bi-sayya:rati l-Ɂis’a:fi
melewati-1sg dengan-mobil (itu)-pertolongan
“saya melewati mobil ambulan”
الإجتماعِ في الحكومةِ موظّفُ نام na:ma muwaẓẓafu l-ḥuku:mati fi: l-Ɂijtima:’i
tidur-3msg pegawai (itu)-pemerintah di rapat
“pegawai negeri itu tidur dalam rapat”
Kata بابَ ba:ba, سيّارةِ sayya:rati, dan موظّفُ muwaẓẓafu adalah mudhaf dan tanpa artikel (اﻟ al-). Meskipun demikian, kata-kata itu termasuk ma’rifah karena disandarkan kepada mudhaf ilaih (البيتِ al-bayti, الإسعافِ al-Ɂis’a:fi, dan الحكومةِ al-ḥuku:mati). Ketiga mudhaf ilaih itu ma’rifah dan berkasus genitif (berharakat akhir كسرة kasra (ِ i)).
Idhafah juga dapat dibentuk dengan mudhaf ilaih yang berupa kata نكرة nakira (indefinit). Akan tetapi, konstruksi idhafah yang demikian tidak berstatus ma’rifah melainkan nakirah. Kita bisa lihat contoh berikut:
A. درسٍ كتابُ kita:bu darsin buku pelajaran
“sebuah buku pelajaran”
B. الدرسِ كتابُ kita:bu d-darsi buku (itu)-pelajaran
“buku pelajaran (itu)”
Konstruksi idhafah pada contoh A berstatus nakirah (indefinit) karena mudhaf ilaih-nya (درسٍ darsin) berupa kata indefinit. Contoh A berarti sebuah buku pelajaran yang tidak diketahui buku pelajaran apa dan seperti apa. Adapun contoh B adalah idhafah yang ma’rifah.
Apabila mudhaf berupa kata مثنى muθanna: (dual) atau سالم مذكّر جمع jam’ muðakkar sa:lim (sound masculine plural), maka huruf nun ن n di akhir kata harus dihilangkan. Contoh:
معلّمونَ mu’allimu:na → المدرسةِ معلّمو mu’allimu: l-madrasati guru-pl (itu)-sekolah
“para guru sekolah”
تفّاحتانِ tuffa:ḥata:ni → الفتاةِ تفّاحتا tuffa:ḥata: l-fata:ti apel-dual (itu)-gadis
“dua apel gadis”
قلميْنِ qalamayni → المديرِ قلمىِ qalamayi l-mudi:ri pena-dual (itu)-direktur
“dua pena direktur”
Jika pada idhafah terdapat lebih dari satu mudhaf ilaih (pewatas), maka hanya mudhaf ilaih yang terletak di akhir frase saja yang berartikel (اﻟ al-). Adapun mudhaf ilaih yang lainnya tidak menggunakan artikel, namun tetap berkasus genitif. Contoh:
الملكةِ غرفةِ نافذةُ انغلقتْ inɣalaqat na:fiðatu ɣurfati l-malikati
tertutup-3fsg jendela kamar (itu)-ratu
“jendela kamar ratu itu tertutup”
الرجلِ طائرِ بيضَىْ كسرتُ kasartu bayḍay ṭa:Ɂiri r-rajuli
memecahkan-1sg telur-dual burung (itu)-laki-laki
“saya memecahkan dua telur burung laki-laki itu”
Jika sebuah mudhaf ilaih menjadi pewatas terhadap dua buah atau lebih mudhaf, maka mudhaf ilaih itu diletakkan setelah mudhaf yang pertama. Adapun mudhaf yang lain mendapat sufiks pronomina yang sesuai dengan mudhaf ilaih dalam hal jenis dan jumlah. Contoh:
ونظّارتُهُ الطبيبِ مسمعُ misma’u ṭ-ṭabi:bi wa naẓẓa:ratuhu
stetoskop (itu)-dokter dan kacamata-nya(3msg)
“stetoskop dan kacamata dokter”
وجملُها الممرّضةِ حميرُ ḥami:ru l-mumarriḍati wa jamaluha:
keledai (itu)-suster dan unta-nya(3fsg)
“keledai dan unta suster”
Mudhaf نظّارةُ naẓẓa:ratu dan جملُ jamalu pada contoh di atas, mendapatkan sufiks pronomina (هُ hu dan ها ha:) yang mengacu kepada mudhaf ilaih الطبيبِ aṭ-ṭabi:bi dan الممرّضةِ al-mumarriḍati.
Ajektiva yang menerangkan sebuah idhafah diletakkan setelah konstruksi frase. Ajektiva itu sendiri harus sesuai dengan mudhaf dalam hal jenis, jumlah, maupun kasusnya. Contoh:
1. الجميلُ المرأةِ حجابُ تعجّبني ta’ajjabani: ḥija:bu l-marɁati l-jami:lu
mentakjubkan-3msg-ku(1sg) hijab (itu)-perempuan (itu)-indah
“hijab perempuan yang indah itu membuatku takjub”
2. الكبيرتَينِ الفتاةِ تفّاحتَى الأميرُ اشترى ištara: l-Ɂami:ru tuffa:ḥatayi l-fata:ti l-kabi:ratayni
membeli-3msg (itu)-pengeran apel-dual (itu)-gadis (itu)-besar-dual
“pangeran itu membeli dua apel gadis yang besar”
3. طويلٌ فارسٍ سيفُ التفاحةَ قطع qaṭa’a t-tuffa:ḥata sayfu fa:risin ṭawi:lun
memotong-3msg (itu)-apel pedang kesatria panjang
“sebuah pedang kesatria yang panjang memotong apel itu”
4. الجميلةِ المؤلّفةِ قلمَ أخذ Ɂaxaða qalama l-muɁallifati l-jami:lati
mengambil-3msg pena (itu)-pengarang (itu)-cantik
“dia mengambil pena pengarang yang cantik”
Ajektiva yang menerangkan idhafah pada contoh 1, 2, dan 3 di atas, menyesuaikan diri dengan mudhaf-nya dalam hal jenis, jumlah, dan kasus. Ajektiva الجميلُ al-jami:lu dan الكبيرتينِ al-kabi:ratayni juga berartikel (اﻟ al-) karena idhafah yang disifatinya adalah ma’rifah. Adapun ajektiva طويلٌ ṭawi:lun tidak berartikel karena idhafah yang disifatinya adalah nakirah. Sementara itu, ajektiva الجميلةِ al-jami:lati pada contoh 4 tidak menyifati/menerangkan konstruksi idhafah, tetapi ia menerangkan mudhaf ilaih المؤلّفةِ al-muɁallifati.
Sekian saja pertemuan kita dengan idhafah dari bahasa Arab. Jika terdapat kekurangan atau kesalahan selama pertemuan ini, mohon dima’afkan dan jangan sungkan untuk memerbaiki serta memberi masukkan.
شكرا
감사합니다
Assala:mu’alaikum…..!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar